MEDAN, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka peluang kolaborasi dengan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery untuk mengembangkan Museum Mpu Tantular di Sidoarjo, Jawa Timur.
Kolaborasi tersebut salah satunya membahas kemungkinan koleksi satwa yang diawetkan milik pendiri Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Tun Dr. H. Rahmat Shah, dititipkan di Jawa Timur untuk memperkaya koleksi sekaligus materi edukasi Museum Mpu Tantular.
Penjajakan kerja sama itu disampaikan Khofifah saat mengunjungi Rahmat International Wildlife Museum and Gallery di Medan, Selasa (29/9). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah juga menerima penghargaan Satya Lencana Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) yang diserahkan Tun Rahmat Shah selaku Ketua Dewan Pembina ISMI.
“Kami juga menawarkan kerja sama, mungkin satwa milik Pak Rahmat Shah bisa dititipkan di Jawa Timur dan kami juga menyiapkan ruangan khusus yang diatasnamakan beliau,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, pengembangan Museum Mpu Tantular tidak hanya diarahkan untuk menambah koleksi, tetapi juga memperkuat fungsi museum sebagai ruang edukasi masyarakat.
Museum, kata dia, dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, budaya, lingkungan, serta pentingnya menjaga kelestarian alam kepada generasi muda.
Khofifah menilai pengalaman pengelolaan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery dapat memberikan perspektif tambahan bagi pengembangan Museum Mpu Tantular.
“Luar biasa kedalaman keilmuannya. Kita ingin membangun koneksitas kesejarahan untuk membangun peradaban dan kearifan. Museum Mpu Tantular Pemprov Jatim di Sidoarjo yang rencananya kita ingin kembangkan, perspektif kita bisa punya penguasaan dan pengayaan dari sini,” ungkapnya.
Saat berkeliling museum, Khofifah melihat koleksi satwa yang diawetkan dan ditata di tiga lantai dengan pendekatan habitat asli. Museum tersebut memiliki lebih dari 2.600 jenis satwa yang diawetkan dan sekitar 5.600 spesimen dari berbagai belahan dunia.
Koleksi yang dipamerkan antara lain African Big Five, Bear Room, Cats of the World, Pheasants of the World, Night Safari, berbagai jenis serangga, hingga satwa khas Indonesia seperti harimau Sumatra dan komodo. Museum tersebut juga memiliki koleksi kerangka satwa.
Khofifah mengatakan ketertarikannya terhadap museum telah tumbuh sejak lama. Ia memandang museum sebagai salah satu pintu untuk memahami latar belakang budaya, sejarah, dan peradaban suatu daerah maupun negara.
“Saya termasuk pencinta museum. Saya juga mengikuti bagaimana kita bisa menemukenali cultural background sebuah negara melalui museum,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kepedulian Tun Rahmat Shah dalam mengembangkan museum serta membagikan pengetahuan mengenai satwa, lingkungan, dan konservasi kepada masyarakat.
Sementara itu, Tun Rahmat Shah menjelaskan bahwa koleksi di museumnya berasal dari berbagai belahan dunia dan ditata sebagai sarana edukasi sekaligus untuk menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi.
Ia menyebut sebagian pengetahuannya mengenai pengelolaan satwa dan kegiatan berburu konservasi diperoleh dari pengalaman di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman.
“Sebagian saya belajar berburu di Kanada, Amerika, Jerman dan negara lainnya. Tapi tentu dengan rules yang harus kita patuhi,” ungkapnya.
Tun Rahmat Shah juga menyampaikan bahwa dirinya pernah dipercaya sebagai pemburu konservasi dan menerima sejumlah penghargaan atas kiprahnya di bidang tersebut. Menurut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memahami satwa dan lingkungan dengan tetap memperhatikan aturan konservasi.
“Ini untuk menjadi contoh bahwa banyak orang hebat memulai dari nol. Yang penting tidak melanggar undang-undang negara dan agama. Insyaallah, kita akan berhasil,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Semangat tersebut, menurutnya, juga menjadi bagian dari kiprahnya di ISMI yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari dunia pendidikan hingga kepala daerah.
“Berbuat kebaikan, sekecil apa pun, pasti ada manfaatnya. Kita tanam padi, nanti yang tumbuh bukan hanya satu, tetapi ada banyak manfaat yang bisa kita rasakan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar