JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi meninjau hasil Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) yang diterapkan SMA, SMK, dan SLB se-Kabupaten Jombang di SMA Negeri 2 Jombang, Jumat (28/8).
Dalam pameran tersebut, berbagai hasil budidaya siswa ditampilkan, mulai dari jambu, melon, pisang, belimbing, pepaya, jeruk, cabai, sawi hidroponik, hingga terong ungu dan putih.
Khofifah bersama Arifah juga menanam bibit jeruk madu sebagai bagian dari pengembangan Program SIKAP di lingkungan SMA Negeri 2 Jombang. Selain itu, Khofifah meninjau hasil prakarya dan kewirausahaan dari seluruh SMA Double Track di Kabupaten Jombang.
“Ini tahun ketiga program SIKAP, dan ini program inisiatif Dinas Pendidikan Jawa Timur yang dibangun berbasis pemanfaatan lahan sekolah secara produktif dan berkelanjutan,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, ketahanan pangan tidak harus bergantung pada ketersediaan lahan yang luas. Ruang yang ada di sekitar institusi, termasuk sekolah dan rumah, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.
“Sesungguhnya kita tidak bisa mengandalkan luasan lahan, berapa hektar lahan, jadi di setiap area yang ada disekeliling institusi kita, rumah bahkan sekolah, itu sangat memungkinkan menyiapkan format ketahanan pangan,” terangnya.
Khofifah pun mendorong agar inovasi di bidang pangan terus dikembangkan di seluruh sekolah di Jawa Timur. Menurutnya, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk mengenalkan sekaligus mempraktikkan ketahanan pangan kepada generasi muda.
Di SMA Negeri 2 Jombang, hal itu terlihat dari budidaya sejumlah komoditas yang dilakukan siswa. Di antaranya ikan nila, sawi pakcoy, dan sawi samhong yang saat ditinjau telah berusia 31 hari dan siap dipanen.
“Kami ingin program inovasi ini bisa diimplementasikan diseluruh sekolah di Jawa Timur. Tadi kami juga berkesempatan melakukan panen ikan nila yang dibudidayakan sekolah, ada juga panen sawi pokcoy, sawi samhong,” imbuhnya.
Khofifah juga menyoroti pola budidaya yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media. Mulai dari tanaman dalam polybag hingga sistem hidroponik.
“Sangat memungkinkan untuk kita siapkan bagaimana saling bertanam, menyiapkan format ketahanan pangan, kita bisa melihat ada terong dengan media tanam polybag bukan ditanah, ada macam-macam ada jeruk, tomat, ada hidroponik,” jelasnya.
Program SIKAP tidak hanya berorientasi pada budidaya tanaman dan perikanan. Kegiatan tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKWU), khususnya bagi murid kelas XI.
Para siswa terlibat langsung dalam seluruh tahapan, mulai dari pembibitan, perawatan, pemanenan, hingga pengemasan dan pelabelan produk.
“Tidak hanya belajar menanam, anak-anak juga belajar mengemas produk hasil budidaya secara menarik dengan label program SIKAP, sebagai bagian dari pembelajaran nilai tambah dan kewirausahaan,” ungkapnya.
Khofifah berharap Program SIKAP dapat menjadi ruang pembelajaran yang mendorong kemandirian, kreativitas, keterampilan, sekaligus jiwa kewirausahaan peserta didik sejak di bangku sekolah.
“Harapannya, anak-anak yang terlibat langsung dalam proses produksi dari hulu hingga hilir, tidak hanya memiliki pengetahuan, tapi juga pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi masa depan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar