Khofifah Hadiri Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2025, Tegaskan Komitmen Lestarikan Warisan Leluhur

Minggu, 27 Juli 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Khofifah Indar Parawansa membagikan bingkisan kepada warga saat mengikuti Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2025 di Ponorogo, Sabtu (26/7). (Foto Dok Ho/RadarBangsa)

Khofifah Indar Parawansa membagikan bingkisan kepada warga saat mengikuti Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2025 di Ponorogo, Sabtu (26/7). (Foto Dok Ho/RadarBangsa)

PONOROGO, RadarBangsa.co.id – Ribuan masyarakat tumpah ruah di kawasan Monumen Bantarangin, Desa Somoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (26/7), untuk mengikuti Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2025. Acara yang sarat muatan budaya ini dilepas langsung oleh Gubernur Jawa Timur periode 2025–2030, Khofifah Indar Parawansa.

Dalam sambutannya, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat agar terus menjaga keluhuran budaya, termasuk melalui pelestarian tradisi seperti Grebeg Tutup Suro yang diyakini terhubung erat dengan sejarah lahirnya Reog Ponorogo.

“Mari kita jaga keluhuran budaya kita. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujarnya.

Khofifah menegaskan, Grebeg Tutup Suro Bantarangin bukan sekadar peristiwa budaya tahunan, melainkan cermin kekayaan sejarah yang layak menjadi referensi budaya bagi bangsa dan negara. Tradisi ini juga disebut-sebut berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Bantarangin, yang dipercaya sebagai asal muasal Reog Ponorogo.

“Mudah-mudahan ini seiring dengan ikhtiar kita untuk menguatkan budaya masyarakat Ponorogo agar dikenal dunia,” ucapnya.

Khofifah menyebut, Kirab Budaya ini menyimpan energi besar untuk mendorong kreativitas, inovasi, dan semangat menyampaikan pesan damai ke penjuru dunia melalui kekuatan budaya.

“Kegiatan ini menjadi kekuatan dan inspirasi agar terus menyampaikan pesan kesejukan dan kedamaian lewat Bantarangin dan Ponorogo,” imbuhnya.

Ponorogo dikenal sebagai daerah kaya budaya. Data rekap PPKD tahun 2022 mencatat sedikitnya 180 objek pemajuan kebudayaan, meliputi 10 tradisi lisan, 22 ritus, 64 pengetahuan tradisional, hingga 35 seni.

Puncaknya, pada 2024, Reog Ponorogo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage/ICH) oleh UNESCO, menjadi kebanggaan tak hanya bagi Ponorogo, tetapi juga Indonesia.

“Kita terus sampaikan pada masyarakat bahwa Ponorogo memang luar biasa, budayanya luar biasa, budayawannya juga luar biasa,” tegas Khofifah.

Lebih dari sekadar pelestarian, Khofifah menilai budaya perlu dihidupkan dengan sentuhan inovasi. Namun, hal itu tak bisa berjalan tanpa dukungan masyarakat sebagai aktor utama.

“Momentum seperti ini diharapkan memperkuat solidaritas dan toleransi masyarakat. Selaras dengan geliat budaya dan pariwisata yang terus berputar,” katanya.

Mantan Menteri Sosial itu optimis, Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2025 dapat menjadi pengungkit semangat bagi berbagai sektor, tidak hanya di Ponorogo, tapi juga Jawa Timur secara luas.

“Mari kita rajut harmoni, kedamaian, dan kebersamaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyampaikan bahwa Kirab Budaya ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian Grebeg Tutup Suro 2025. Beberapa kegiatan telah digelar sebelumnya, antara lain pagelaran wayang kulit dan kenduri agung.

Sugiri menyebut Kirab Bantarangin pertama kali dikreasikan pada 2010 saat Ponorogo dipimpin Bupati H. Amin, yang kini menjabat Ketua Yayasan Bantarangin.

“Konon katanya, tempat ini adalah bumi kelahiran Reog Ponorogo. Namanya Bantarangin,” ungkap Sugiri.

Sebagai penanda dimulainya kirab, dilakukan prosesi penyerahan pusaka Cemethi Samandiman dari Gubernur Jawa Timur kepada pemeran Prabu Klono Sewandono. Simbol tersebut diyakini memperkuat aura sakral dan historis dalam ritual budaya ini.

Kirab menempuh rute sepanjang 8 kilometer, dimulai dari Monumen Bantarangin, menyusuri Jalan Sabuk Janur – Jalan Sayang Ayu – Jalan Raya Ponorogo Ngumpul – Gerdon – Jalan Ahmad Yani – Jalan Jenderal Sudirman – Kerun Ayu – Balai Desa Carat – Balai Desa Kauman – Jalan Yos Sudarso – Perempatan Sampung – Jalan Diponegoro – Srawungan – Jalan MT Haryono, dan kembali ke titik awal di Monumen Bantarangin.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru