JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi meninjau hasil Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) yang dikembangkan SMA, SMK, dan SLB se-Kabupaten Jombang di SMA Negeri 2 Jombang, Jumat (28/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah dan Arifah melihat langsung beragam hasil budidaya siswa, mulai dari ikan nila, jambu, melon, pisang, belimbing, pepaya, jeruk, cabai, sawi hidroponik, hingga terong ungu dan putih.
Keduanya juga berkesempatan menanam bibit jeruk madu sebagai bagian dari pengembangan Program SIKAP di lingkungan SMA Negeri 2 Jombang.
Khofifah mengatakan, SIKAP telah memasuki tahun ketiga dan merupakan program inisiatif Dinas Pendidikan Jawa Timur yang mendorong pemanfaatan lahan sekolah secara produktif dan berkelanjutan.
“Ini tahun ketiga program SIKAP, dan ini program inisiatif Dinas Pendidikan Jawa Timur yang dibangun berbasis pemanfaatan lahan sekolah secara produktif dan berkelanjutan,” kata Khofifah.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak harus bergantung pada ketersediaan lahan yang luas. Ruang di sekitar institusi, termasuk sekolah dan rumah, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.
“Sesungguhnya kita tidak bisa mengandalkan luasan lahan, berapa hektar lahan, jadi di setiap area yang ada disekeliling institusi kita, rumah bahkan sekolah, itu sangat memungkinkan menyiapkan format ketahanan pangan,” terangnya.
Di SMA Negeri 2 Jombang, penerapan konsep tersebut terlihat dari kegiatan panen ikan nila dan sejumlah sayuran. Salah satunya sawi samhong yang telah berusia 31 hari dan siap dipanen. Khofifah juga meninjau hasil prakarya dan kewirausahaan dari seluruh SMA Double Track Kabupaten Jombang.
“Kami ingin program inovasi ini bisa diimplementasikan diseluruh sekolah di Jawa Timur. Tadi kami juga berkesempatan melakukan panen ikan nila yang dibudidayakan sekolah, ada juga panen sawi pokcoy, sawi samhong,” imbuhnya.
Khofifah menilai berbagai metode budidaya dapat diterapkan sesuai kondisi lahan. Tanaman dapat dibudidayakan menggunakan polybag maupun sistem hidroponik.
“Sangat memungkinkan untuk kita siapkan bagaimana saling bertanam, menyiapkan format ketahanan pangan, kita bisa melihat ada terong dengan media tanam polybag bukan ditanah, ada macam-macam ada jeruk, tomat, ada hidroponik,” jelasnya.
Program SIKAP juga diintegrasikan dalam pembelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKWU), khususnya bagi murid kelas XI. Para siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi terlibat dalam proses pembibitan, perawatan, pemanenan, hingga pengemasan dan pelabelan produk.
“Tidak hanya belajar menanam, anak-anak juga belajar mengemas produk hasil budidaya secara menarik dengan label program SIKAP, sebagai bagian dari pembelajaran nilai tambah dan kewirausahaan,” ungkapnya.
Khofifah berharap SIKAP dapat membentuk kemandirian, kreativitas, keterampilan, dan jiwa kewirausahaan peserta didik. Pengalaman mengelola proses produksi dari hulu hingga hilir diharapkan menjadi bekal bagi siswa menghadapi masa depan.
“Harapannya, anak-anak yang terlibat langsung dalam proses produksi dari hulu hingga hilir, tidak hanya memiliki pengetahuan, tapi juga pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi masa depan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar