Khofifah Panen Sayuran Program SIKAP di SMAN Taruna Nala Malang

Sabtu, 22 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memanen sayuran program SIKAP di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memanen sayuran program SIKAP di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

MALANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memanen sejumlah hasil budidaya sayuran dari program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMAN Taruna Nala Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8). Kegiatan itu dilakukan di sela peresmian fasilitas baru dan hasil rehabilitasi sekolah.

Dalam panen tersebut, Khofifah memetik sejumlah tanaman yang dibudidayakan di lingkungan sekolah, di antaranya tomat, sawi, cabai, dan terong. Menurutnya, pelaksanaan program SIKAP di SMAN Taruna Nala menjadi contoh bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan sekolah.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi para taruna. Mereka dilibatkan secara langsung dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari menyiapkan media tanam, menanam, merawat, mengamati pertumbuhan tanaman, hingga memanen hasilnya.

“Ini adalah praktik nyata pembelajaran ketahanan pangan. Para taruna bisa melihat langsung bagaimana proses menanam, merawat dan kemudian memanen hasilnya. Ada tomat, ada sawi, ada terong dan cabe yang hari ini bisa kita panen bersama, bahkan mereka juga menanam padi. Ini luar biasa,” ujar Khofifah.

Di SMAN Taruna Nala, setiap angkatan dari kelas X, XI, hingga XII memiliki bidang garapan masing-masing sesuai jenis tanaman yang dipilih dan dikembangkan. Para taruna bertanggung jawab terhadap proses tumbuh kembang tanaman yang menjadi bagian garapan angkatannya.

Pembagian bidang tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning. Para taruna tidak hanya menerima teori, tetapi juga belajar melalui pengalaman langsung, pengamatan, pemecahan masalah, evaluasi, dan refleksi selama proses budidaya berlangsung.

“Melalui bidang garapan masing-masing, para Taruna belajar bertanggung jawab. Mereka tidak hanya mengetahui teori tentang tanaman, tetapi juga mengamati proses pertumbuhannya, menghadapi persoalan yang muncul, mencari solusi, dan mengevaluasi hasilnya. Inilah pembelajaran yang nyata dan bermakna,” jelas Khofifah.

Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah budidaya tanaman padi. Di sekolah tersebut, padi tidak ditanam di lahan persawahan, melainkan menggunakan wadah dari bekas galon air minum. Pemanfaatan wadah tersebut dilakukan karena keterbatasan lahan yang tersedia di lingkungan sekolah.

Dengan bimbingan guru mata pelajaran yang relevan, para taruna mempelajari proses penanaman dan perawatan hingga tanaman padi dapat tumbuh. Menurut Khofifah, praktik tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan tidak harus menjadi penghalang untuk mengembangkan kegiatan produktif.

“Ini luar biasa. Padi yang biasanya identik dengan lahan persawahan ternyata dapat ditanam dalam wadah bekas galon dan tumbuh dengan baik. Dengan bimbingan guru, ketekunan, dan perawatan yang tepat, Para Taruna berhasil membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak boleh membatasi kreativitas dan inovasi,” tegasnya.

Khofifah menilai penggunaan kembali bekas galon sebagai wadah tanam juga memberikan pembelajaran tambahan mengenai kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Ia menyebut keberhasilan budidaya tersebut tidak terlepas dari pendampingan guru mata pelajaran. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi turut membimbing para taruna dalam memantau perkembangan tanaman hingga menghasilkan panen.

“Apalagi yang saya dengar, para taruna dalam mengembangkan program SIKAP dibimbing langsung oleh guru mata pelajaran yang membidangi. Pantas saja hasil tanaman mereka baik itu sayur mayur dan juga padi tumbuh berkembang secara optimal,” ujarnya.

“Kolaborasi antara guru dan Taruna menjadi kunci. Guru memberikan arahan sesuai keilmuannya, sedangkan para Taruna belajar mempraktikkan, merawat, dan bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka kelola,” tuturnya.

Menurut Khofifah, pengalaman tersebut penting untuk membangun pemahaman bahwa ketahanan pangan bukan semata-mata persoalan produksi. Di dalamnya terdapat proses yang membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, serta tanggung jawab.

“Supaya para taruna tidak hanya belajar dari buku, tetapi mereka bisa menikmati langsung prosesnya. Dari sini mereka belajar bahwa setiap hasil membutuhkan proses, perawatan dan tanggung jawab,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan SIKAP tidak harus menerapkan pola yang seragam di semua sekolah. Setiap satuan pendidikan dapat mengembangkan kegiatan sesuai kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, dan potensi yang dimiliki.

“Tidak harus menunggu memiliki lahan yang luas. Ruang yang tersedia bisa kita manfaatkan secara produktif sesuai dengan kondisi sekolah. Yang penting ada kemauan untuk mengembangkan dan menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran,” tutur Khofifah.

Menurutnya, pengembangan SIKAP di SMAN Taruna Nala menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari kegiatan sederhana seperti menanam sayuran, siswa dapat belajar mengenai produktivitas sekaligus pentingnya ketahanan pangan.

“Ketahanan pangan itu bukan sesuatu yang jauh. Bisa dimulai dari lingkungan sekolah, dari hal yang sederhana, seperti menanam sayuran. Dari proses sederhana itu kita berharap tumbuh kesadaran, kepedulian dan semangat untuk menjadi generasi yang produktif,” ujar Khofifah.

Program SIKAP merupakan inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan untuk mendorong satuan pendidikan mengembangkan kegiatan ketahanan pangan melalui sektor pertanian, perikanan, peternakan, maupun bentuk budidaya pangan lainnya.

Hingga saat ini, sebanyak 1.548 sekolah telah mengimplementasikan program SIKAP. Jumlah tersebut terdiri atas 596 SMA, 759 SMK, dan 193 SLB. Secara keseluruhan, sekolah-sekolah tersebut telah mengembangkan 41 jenis produk tanaman.

Khofifah mengatakan luasnya keterlibatan satuan pendidikan menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan dapat menjadi bagian dari gerakan ketahanan pangan di Jawa Timur dengan melibatkan guru dan peserta didik secara langsung.

“Ini menunjukkan bahwa sekolah bisa menjadi bagian penting dari gerakan ketahanan pangan Jawa Timur. Kita ingin kesadaran itu tumbuh sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah,” jelasnya.

Khofifah juga mendorong agar hasil budidaya SIKAP tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen. Produk yang dihasilkan dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran pengolahan serta pemanfaatan hasil produksi agar memiliki nilai tambah.

“Ke depan kita berharap tidak berhenti pada menanam dan memanen. Kalau memungkinkan, hasilnya bisa diolah, dikembangkan dan memiliki nilai tambah. Dengan begitu anak-anak belajar tentang produktivitas sekaligus kemandirian,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

PSC 119 RSUD HMR Raih Gold Status, Respons Kurang dari 10 Menit Jadi Kunci Penanganan Stroke
2.432 Kader TP PKK Dilibatkan, Kota Mataram Perkuat Jejaring Siaga Stroke
Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu
Di Hadapan 109 Mahasiswa Unhan, Khofifah Paparkan Potensi Pangan Jatim Menuju Kedaulatan Nasional
Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September
Kemnaker-Baznas Perluas Akses Kerja Inklusif, Disabilitas hingga Magang ke Jepang
Pemerintah Tetapkan 26 Hari Libur 2027, Ini Aturan Kerja dan Cuti Bersamanya
Menaker Ungkap Cara Adopsi AI Bisa Dongkrak Produktivitas hingga 40 Persen

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:58

PSC 119 RSUD HMR Raih Gold Status, Respons Kurang dari 10 Menit Jadi Kunci Penanganan Stroke

Rabu, 16 September 2026 - 13:52

2.432 Kader TP PKK Dilibatkan, Kota Mataram Perkuat Jejaring Siaga Stroke

Rabu, 16 September 2026 - 13:08

Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu

Rabu, 16 September 2026 - 13:00

Di Hadapan 109 Mahasiswa Unhan, Khofifah Paparkan Potensi Pangan Jatim Menuju Kedaulatan Nasional

Rabu, 16 September 2026 - 09:43

Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September

Berita Terbaru