MALANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya distribusi bahan bakar minyak (BBM) sesuai kebutuhan wilayah di tengah antrean panjang di sejumlah SPBU Kota Malang. Berdasarkan koordinasi dengan Pertamina Patra Niaga, stok BBM secara umum disebut aman hingga 31 Oktober.
Pernyataan itu disampaikan Khofifah saat membagikan 300 liter BBM gratis kepada 100 pengemudi ojek online (ojol) di SPBU 54.651.73, Jalan Ciliwung, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Sabtu (17/10/2026) malam. Masing-masing pengemudi menerima tiga liter BBM.
Bantuan tersebut ditujukan untuk meringankan biaya operasional para pengemudi ojol yang mengandalkan kendaraan bermotor untuk mencari nafkah. Kegiatan itu juga berlangsung dalam momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur yang mengusung tema Jatim Unggul, Maju Berkelanjutan.
Khofifah mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah dua kali berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga untuk membahas antrean BBM, termasuk yang terjadi di Jember, Bondowoso, dan Malang.
“Pemprov Jatim sudah dua kali melakukan rapat koordinasi dengan Pertamina Patra Niaga, mulai dari persoalan antrean panjang di Jember, kemudian Bondowoso, hingga Malang. Berdasarkan data stok dari Pertamina, sebetulnya tercatat aman,” ujar Khofifah.
Meski stok secara umum dinyatakan aman, Khofifah menekankan bahwa ketersediaan BBM harus diikuti distribusi yang sesuai dengan kebutuhan di setiap wilayah. Menurutnya, data kebutuhan yang dimiliki Pertamina perlu menjadi acuan agar pasokan dapat diterima masyarakat secara proporsional.
“Harapan kita, masing-masing SPBU di Jawa Timur mendistribusikan BBM sesuai proporsi. Kebutuhan itu sebenarnya sudah ada datanya di Pertamina. Jadi, mari kita bersama-sama memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi sesuai porsinya,” katanya.
Dalam koordinasi tersebut, Khofifah juga memperoleh informasi bahwa pasokan BBM ke sejumlah SPBU di Malang telah melampaui kuota yang tercatat. Karena itu, antrean panjang yang masih terjadi perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya, termasuk kemungkinan perubahan kebutuhan masyarakat.
Kota Malang memiliki karakteristik sebagai kota pendidikan sekaligus tujuan wisata. Mobilitas mahasiswa, wisatawan, dan warga pada periode tertentu turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan kebutuhan BBM.
Khofifah juga menyampaikan bahwa kapal pengangkut BBM impor telah merapat di Pelabuhan Tanjung Perak, sedangkan kapal berikutnya dijadwalkan tiba pada 25 Oktober.
Berdasarkan data yang disampaikan Pertamina Patra Niaga dalam koordinasi tersebut, pasokan Pertamax hingga 31 Oktober diperkirakan melebihi kebutuhan. Sementara itu, pasokan Pertalite dan solar diperkirakan mencukupi sesuai alokasi yang tercatat.
Di tengah situasi tersebut, Khofifah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Ia mengingatkan praktik panic buying dapat memperpanjang antrean dan menyulitkan masyarakat lain yang membutuhkan bahan bakar.
“Kita harus menghindari panic buying. Apalagi jika ada indikasi membeli menggunakan tangki yang lebih besar, kemudian BBM-nya disedot atau dijual kembali di jalan. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Khofifah mengatakan koordinasi juga dilakukan dengan jajaran kepolisian, termasuk Kapolda Jawa Timur dan Kapolri, untuk mendukung pengawasan distribusi serta mengantisipasi penyalahgunaan BBM.
“Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan BBM sesuai kebutuhannya. Karena itu, distribusi harus dikawal, data kebutuhan harus menjadi dasar, dan kita bersama-sama mencegah adanya pembelian berlebihan maupun penyelewengan di lapangan,” ujar Khofifah.
Ia menegaskan, kelancaran pasokan BBM membutuhkan kerja sama pemerintah, Pertamina Patra Niaga, aparat kepolisian, dan masyarakat. Pengawasan serta distribusi berbasis data diperlukan agar kebutuhan bahan bakar dapat terpenuhi sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar