SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengkaji pembangunan sumur bor di Kabupaten Sumenep pada awal 2027 untuk mengatasi persoalan kekeringan yang berulang setiap musim kemarau. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rencana tersebut saat menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Dusun Marang, Desa Larangan Barma, Kecamatan Batuputih, Rabu (14/10).
Rencana sumur bor itu menjadi salah satu opsi penanganan jangka panjang di tengah dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Sumenep. Pemprov Jatim akan mengidentifikasi kebutuhan warga dan kelayakan teknis sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Kalau memang memungkinkan, kita sediakan di awal 2027, sebelum musim kemarau tahun depan kami upayakan,” ujar Khofifah.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan, kekeringan di Kabupaten Sumenep berdampak pada 70 desa dengan total 271.017 jiwa. Di Dusun Marang, Kecamatan Batuputih, sebanyak 595 jiwa dilaporkan turut mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Sebagai langkah penanganan sementara, Pemprov Jatim mengalokasikan bantuan senilai Rp130 juta untuk mendukung distribusi air bersih di Kabupaten Sumenep. Bantuan tersebut mencakup 540 jeriken berkapasitas 15 liter, 90 tandon air berkapasitas 1.200 liter, serta 200 lembar terpal.
Khusus bagi warga Dusun Marang, bantuan yang disalurkan berupa dua truk tangki air dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter, tiga tandon air, dua tandon lipat, dan 150 jeriken. Peralatan tersebut diharapkan membantu warga memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Khofifah mengatakan, distribusi air bersih merupakan respons pemerintah terhadap masyarakat yang mengalami keterbatasan sumber air selama musim kemarau. Pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk air untuk minum, memasak, dan sanitasi, menjadi perhatian dalam penanganan tersebut.
“Kabupaten Sumenep ini jadi salah satu dari 25 Kabupaten yang mengeluarkan status darurat kekeringan. Hari ini di Desa Marang kita dropping air bersih, ada dua truk tangki dan 13 tandon unit tandon air,” katanya.
Menurut Khofifah, distribusi air perlu diikuti dengan upaya mencari sumber air yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Karena itu, kemungkinan pembangunan sumur bor akan dikaji berdasarkan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.
Rencana tersebut juga memerlukan koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Namun, pembangunan sumur bor masih berupa opsi yang akan diupayakan apabila dinilai memungkinkan secara teknis.
Sementara itu, warga Dusun Marang, Sudi, menyampaikan terima kasih atas bantuan air bersih yang diterima masyarakat. Ia mengatakan, kekurangan air bersih menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau.
“Alhamdulillah, sangat senang mendapat bantuan air bersih ini. Setiap tahun saat musim kemarau, kami pasti kekurangan air bersih. Kami berharap banyak kepada Ibu Gubernur agar ada solusi supaya warga tidak terus mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau,” ungkap Sudi.
Sudi berharap rencana pembangunan sumur bor dapat ditindaklanjuti agar warga memiliki akses air bersih yang lebih memadai dan tidak terus bergantung pada distribusi bantuan ketika musim kemarau tiba.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar