Kongres IDEI 2026 Pertegas Peran Doktor Ekonomi Dorong Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas

Selasa, 13 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kongres IDEI 2026 dan Seminar Nasional di Surabaya yang menegaskan peran strategis doktor ekonomi menuju Indonesia Emas. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Kongres IDEI 2026 dan Seminar Nasional di Surabaya yang menegaskan peran strategis doktor ekonomi menuju Indonesia Emas. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI) menegaskan kembali posisi strategis doktor ekonomi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan nasional melalui Kongres IDEI 2026 yang digelar di Surabaya. Forum ini menyoroti pentingnya paradigma ekonomi berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045, di tengah tekanan global dan tantangan ketimpangan domestik.

Kongres IDEI 2026 yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional dan Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IDEI Periode 2025–2030 berlangsung di BeSS Mansion Hotel Surabaya, Selasa (13/1). Kegiatan ini dihadiri akademisi, peneliti, praktisi kebijakan, serta para doktor ekonomi dari berbagai daerah.

Sejak pembukaan, IDEI menekankan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial, budaya, dan tanggung jawab intelektual. Diskursus ekonomi, menurut IDEI, harus menjawab persoalan nyata masyarakat, bukan sekadar mengejar indikator pertumbuhan makro.

Ketua Umum IDEI Prof. Dr. Hary Soegiri, MBA, menyatakan bahwa kongres ini menjadi momentum penting untuk memperjelas arah kontribusi IDEI dalam pembangunan nasional.

“Kongres IDEI bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ini adalah forum refleksi sekaligus penegasan peran IDEI sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah, dunia usaha, dan kebutuhan riil masyarakat,” ujar Prof. Hary Soegiri dalam sambutannya.

Ia menegaskan, doktor ekonomi memiliki tanggung jawab moral untuk keluar dari batas akademik semata dan menghadirkan solusi yang aplikatif.

“Para doktor ekonomi tidak boleh berhenti di menara gading. Gagasan harus solutif, bisa diterapkan, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,” tambahnya.

Menurut Prof. Hary, tema sustainability economic memiliki relevansi strategis dengan visi Indonesia Emas 2045. Ia menilai, orientasi pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan tinggi berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak disertai keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.

“Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkelanjutan justru melahirkan ketimpangan dan kerusakan lingkungan. Karena itu, IDEI mendorong paradigma pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan, pemerataan, dan keberlanjutan,” katanya.

IDEI, lanjutnya, berkomitmen untuk berkontribusi dalam perumusan kebijakan ekonomi yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berorientasi jangka panjang.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang hadir secara virtual menilai peran IDEI sangat strategis dalam menjawab tantangan pembangunan daerah. Ia menyebut Jawa Timur memiliki posisi penting sebagai center of gravity perekonomian nasional.

“Jawa Timur memiliki kekuatan demografi, geografis, dan kontribusi ekonomi yang signifikan. Namun, tantangan efisiensi anggaran, penyesuaian transfer ke daerah, dan dinamika global menuntut perubahan paradigma pembangunan,” ujar Emil.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak lagi dapat diukur dari besarnya serapan anggaran.

“Kita harus bergeser dari pola spending oriented menuju outcome dan value-creating oriented. Ukuran keberhasilan adalah manfaat nyata yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Dalam sesi seminar nasional, ekonom dan pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy menyoroti ketimpangan antara capaian makroekonomi dan kondisi riil masyarakat. Dalam paparannya berjudul *Pertumbuhan Ekonomi Tersendat, Masyarakat Tetap Melarat*, ia menilai angka pertumbuhan belum sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan.

“Pertumbuhan ekonomi yang terlihat stabil secara statistik tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ketika daya beli melemah dan ketimpangan melebar, masyarakat tetap merasakan tekanan,” ujar Noorsy.

Ia menilai tekanan global, struktur ekonomi yang rapuh, serta ketergantungan pada sistem ekonomi yang tidak berdaulat menjadi faktor penghambat pemerataan kesejahteraan.

“Indonesia memerlukan kebijakan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaulat. Tanpa itu, pertumbuhan hanya akan dinikmati kelompok tertentu,” katanya.

Selain diskursus kebijakan, Kongres IDEI 2026 juga ditandai dengan pengukuhan Pengurus DPP IDEI Periode 2025–2030. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kelembagaan dan menjaga kesinambungan peran organisasi.

Bendahara Umum IDEI Prof. Dr. Hj. Sukesi menyampaikan bahwa pengukuhan pengurus baru menjadi tonggak penguatan organisasi.

“Pelantikan ini diharapkan memperkuat soliditas IDEI dan memperluas perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam perumusan kebijakan ekonomi,” ujarnya.

Senada, Wakil Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga IDEI Dr. Zainal Muttaqin menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga lembaga internasional menjadi kunci agar gagasan IDEI terimplementasi dalam kebijakan nyata,” katanya.

Kongres IDEI 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis yang mampu memperkuat fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan. Melalui konsolidasi organisasi dan penguatan peran intelektual, IDEI menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian aktif dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru