PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Tradisi selamatan desa dengan gunungan durian di Desa Kronto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan tetap digelar, meski jumlah buah yang dipajang menurun drastis. Tahun ini, hanya sekitar 1.000 durian yang disusun, jauh dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5.000 buah.
Acara yang digelar di halaman Balai Desa Kronto pada Minggu (5/4/2026) ini tetap menarik perhatian warga dan pejabat daerah, termasuk Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo. Tradisi ini menjadi sorotan karena dampak cuaca ekstrem terhadap hasil panen durian.
Selamatan desa di Kronto merupakan agenda tahunan yang rutin digelar saat musim durian tiba. Kegiatan berlangsung selama dua hari, dimulai dengan khataman Al-Qur’an, doa dan tahlil, hingga puncaknya berupa tasyakuran dengan gunungan durian.
Namun, tahun ini terdapat perubahan signifikan. Gunungan durian yang biasanya megah dengan ribuan buah harus disesuaikan dengan kondisi panen yang menurun. Selain itu, setiap RT tetap membawa ancak berisi hasil bumi khas setempat untuk diarak keliling desa sebelum diperebutkan warga.
Kepala Desa Kronto, Sodin menjelaskan bahwa jadwal pelaksanaan selamatan desa yang biasanya digelar sebelum Ramadan terpaksa diundur karena waktu yang terlalu mepet dengan bulan puasa.
“Biasanya ruwah sebelum puasa, tapi karena waktunya mepet akhirnya diundur setelah Lebaran,” ujar Sodin.
Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan jumlah durian disebabkan oleh faktor cuaca dan penyakit tanaman yang menyerang pohon durian.
“Yang ditakuti petani itu penyakit durian. Ditambah hujan deras hampir setiap hari, banyak buah rontok bahkan gagal berbuah,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengapresiasi upaya warga dalam menjaga tradisi tersebut.
“Harapannya Desa Kronto menjadi desa yang damai, tanamannya subur, dan hasil buahnya melimpah agar tahun depan lebih meriah,” katanya.
Penurunan produksi durian di Kronto menjadi gambaran nyata dampak perubahan cuaca terhadap sektor pertanian lokal. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi tradisi budaya, tetapi juga berpotensi menekan pendapatan petani durian di wilayah Lumbang.
Meski demikian, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tradisi selamatan desa tetap menjadi perekat sosial yang kuat di tengah tantangan ekonomi dan lingkungan.
Kendati jumlah durian berkurang, semangat warga Kronto dalam menjaga tradisi tidak surut. Pemerintah daerah pun berharap kondisi panen membaik agar perayaan tahun depan kembali meriah dengan hasil bumi yang lebih melimpah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar