Pembekuan Industri Rokok Ancam Ekonomi Madura, DPD RI Lia Istifhama : Minta Solusi Adil

Senin, 3 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama, S.Sos.i., M.E.I., (Dok Foto Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama, S.Sos.i., M.E.I., (Dok Foto Ho/RadarBangsa.co.id)

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi Madura kembali mencuat menyusul pembekuan sejumlah perusahaan rokok (PR) lokal di empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Kebijakan pembatasan pita cukai oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dinilai menjadi pukulan telak bagi sektor tembakau yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat.

Pendiri Aliansi Pemuda Reformasi Melawan (ALARM), Ach Toifur Ali Wafa, menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan kehidupan ribuan petani dan buruh rokok di Madura.
“Langkah ini seperti upaya sistematis yang menekan ekonomi Madura. Selama ini, perusahaan rokok lokal menjadi penopang harga tembakau agar tidak jatuh di pasaran,” ujarnya, Sabtu (2/11).

Toifur yang juga mantan aktivis PMII itu menyebut, peran perusahaan rokok sangat vital dalam menjaga stabilitas harga tembakau. Dengan dibekukannya sejumlah PR, para petani dikhawatirkan akan kehilangan pasar. “Kalau PR terus dibekukan dan pita cukai dibatasi, otomatis petani kesulitan menjual hasil panennya. Madura bisa kehilangan komoditas andalan yang menjadi kebanggaan daerah,” tambahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Madura tercatat sebagai penghasil tembakau terbesar ketiga di Indonesia. Artinya, setiap kebijakan di sektor ini memiliki efek domino terhadap ribuan kepala keluarga di pulau tersebut.

Toifur juga menilai, langkah Kementerian Keuangan justru kontraproduktif terhadap upaya pengentasan kemiskinan di daerah.

“Alih-alih menekan kerugian negara, kebijakan ini justru bisa menghilangkan mata pencaharian ribuan buruh dan petani tembakau. Pemerintah harus membuat kebijakan yang solutif, bukan mematikan usaha kecil,” tegasnya.

Ia mengusulkan agar pemerintah pusat membuka ruang dialog bersama pengusaha rokok, petani, dan anggota legislatif untuk mencari jalan tengah. Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah penerbitan pita cukai kelas tiga khusus bagi perusahaan kecil atau pembentukan kawasan ekonomi khusus tembakau di Madura.

“Kalau ada kemauan untuk duduk bersama, potensi kerugian negara bisa ditekan tanpa harus mematikan ekonomi rakyat. Pemerintah perlu lebih arif melihat dampaknya di lapangan,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama, S.Sos.i., M.E.I. menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat Madura melalui jalur konstitusional di tingkat pusat. “Isu pembekuan PR dan pembatasan pita cukai harus menjadi perhatian serius. Ini menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat penghasil tembakau seperti Madura,” tegasnya.

Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan, pemerintah pusat seharusnya berpihak pada daerah penghasil komoditas strategis.

“Madura punya dua sektor unggulan: garam dan tembakau. Keduanya harus dijaga agar tetap menjadi sumber penghidupan masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, pemberdayaan ekonomi lokal merupakan bagian penting dari pembangunan nasional yang inklusif. “Jangan sampai kebijakan yang dibuat di Jakarta justru menimbulkan kesenjangan ekonomi di daerah. Pemerintah harus mendengar suara rakyat,” ujar Lia.

Ning Lia juga mengapresiasi semangat pemuda Madura dalam memperjuangkan kepentingan daerahnya.

“Masukan seperti ini sangat berharga. Saya akan sampaikan langsung kepada Kementerian Keuangan agar ada solusi yang berpihak pada masyarakat Madura,” ucapnya.

Ia menutup dengan ajakan agar pemerintah, legislatif, dan pelaku usaha bersinergi menjaga keberlanjutan ekonomi daerah.

“Kita harus membangun komunikasi yang baik agar kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada masyarakat kecil. Jangan biarkan Madura kehilangan identitas ekonominya,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh
PERWOSI Lamongan Periode 2025–2029 Dilantik, Bidik Atlet Perempuan hingga Pelosok Desa
Produksi Garam Lamongan Baru 1.317 Ton, Pemkab Optimistis Kejar Target 20.000 Ton
PSC 119 RSUD HMR Raih Gold Status, Respons Kurang dari 10 Menit Jadi Kunci Penanganan Stroke
2.432 Kader TP PKK Dilibatkan, Kota Mataram Perkuat Jejaring Siaga Stroke
Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 18:13

Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga

Rabu, 16 September 2026 - 18:03

Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke

Rabu, 16 September 2026 - 17:58

95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Rabu, 16 September 2026 - 14:43

PERWOSI Lamongan Periode 2025–2029 Dilantik, Bidik Atlet Perempuan hingga Pelosok Desa

Rabu, 16 September 2026 - 14:36

Produksi Garam Lamongan Baru 1.317 Ton, Pemkab Optimistis Kejar Target 20.000 Ton

Berita Terbaru