SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di era digital. Kolaborasi antara ulama dan pemerintah dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah meningkatnya kerentanan sosial sekaligus memperkuat dakwah digital yang moderat, kredibel, dan mampu menjawab dinamika perkembangan teknologi.
Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus MUI Provinsi Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 yang dirangkaikan dengan Pembukaan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) MUI Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (12/7). Dalam kesempatan itu, Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum MUI Jawa Timur menggantikan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.
Khofifah menyampaikan apresiasi kepada jajaran kepengurusan sebelumnya yang dinilai telah berkontribusi menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis di Jawa Timur. Ia juga menyampaikan harapan agar kepengurusan baru mampu memperkuat posisi MUI sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus pelayan umat dalam menjawab berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Kami meyakini, di bawah kepemimpinan yang baru, MUI Jatim akan terus menjadi pilar penyejuk, pembimbing, sekaligus benteng moral bagi masyarakat Jawa Timur yang berkarakter, religius, moderat, dan majemuk,” ujarnya.
Menurut Khofifah, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks. Selain penyebaran hoaks dan disinformasi, masyarakat juga dihadapkan pada maraknya judi online, penyalahgunaan media sosial, degradasi moral, hingga dampak perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya menyasar kalangan dewasa, tetapi juga semakin banyak memengaruhi anak-anak dan generasi muda melalui ruang digital yang semakin terbuka.
“Kerentanan sosial banyak terjadi di masyarakat kita, tidak hanya menyasar orang dewasa dan berumur, tetapi juga anak-anak kita. Banyak di antara mereka terpapar hal-hal destruktif dari media sosial,” ungkapnya.
Karena itu, Khofifah menegaskan MUI memiliki posisi strategis, bukan sekadar lembaga pemberi fatwa, tetapi juga mitra pemerintah dalam membimbing kehidupan beragama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga nilai-nilai Islam yang moderat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
“MUI tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi fatwa, tetapi juga sebagai mitra umat dan pemerintah dalam membimbing kehidupan beragama, memperkuat ukhuwah, menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Khofifah juga menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memperoleh referensi keagamaan. Menurutnya, lebih dari 60 persen masyarakat kini mengakses literatur keagamaan melalui media digital. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian karena ruang digital perlu diisi dengan konten dakwah yang memiliki sanad keilmuan jelas, moderat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Tingginya persentase tersebut harus benar-benar dimanfaatkan untuk syiar atau dakwah kita agar apa yang dijadikan referensi oleh masyarakat kita sanadnya benar-benar bersambung dan terhubung,” katanya.
Atas dasar itu, Gubernur Jawa Timur mendorong MUI memperkuat dakwah digital dengan melibatkan para dai muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Menurutnya, dakwah yang santun dan menyejukkan harus hadir secara lebih luas di berbagai platform digital sebagai penyeimbang terhadap maraknya disinformasi, ujaran kebencian, radikalisme, hingga penyalahgunaan media sosial.
“Platform digital harus menjadi ruang strategis bagi MUI untuk mendiseminasikan berbagai pemikiran yang mencerahkan, menyejahterakan kehidupan masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi terhadap kesehatan mental masyarakat,” jelasnya.
Khofifah menambahkan Indonesia, termasuk Jawa Timur, tengah memasuki era bonus demografi yang harus dimanfaatkan melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berakhlak mulia. Menurutnya, sinergi seluruh elemen menjadi faktor penting agar bonus demografi benar-benar menjadi kekuatan pembangunan.
“Mari kita kuatkan sinergi untuk mencetak generasi yang unggul secara intelektual, kokoh akhlaknya, kuat karakter kebangsaannya,” ajaknya.
Ia juga menegaskan hubungan harmonis antara ulama dan umara selama ini telah menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga stabilitas daerah, memperkuat toleransi, serta mendukung pemberdayaan ekonomi umat melalui penguatan ekonomi syariah dan pengembangan industri halal.
“Sinergi yang kuat ulama dan umara akan menjadi motivasi tersendiri bagi umat untuk semakin berdaya melalui penguatan ekonomi syariah dan pengembangan ekosistem industri halal,” terangnya.
Menurut Khofifah, pengukuhan kepengurusan MUI Jawa Timur bukan hanya pergantian struktur organisasi, tetapi menjadi momentum memperkuat peran MUI sebagai khadimul ummah wa shadiqul hukumah, yakni pelayan umat sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan toleran.
Mukerda MUI Jawa Timur yang digelar bersamaan dengan pengukuhan tersebut diharapkan mampu menghasilkan arah kebijakan dan program kerja yang visioner selama lima tahun mendatang. Program-program tersebut diharapkan mampu memperkuat dakwah moderat, meningkatkan literasi keagamaan, mempererat ukhuwah, membangun kemandirian umat, serta menjawab berbagai tantangan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
“Saya berharap Mukerda ini dapat menghasilkan program-program yang visioner, implementatif, dan berdampak nyata, khususnya dalam memperkuat dakwah yang moderat, membangun kemandirian umat, meningkatkan literasi keagamaan, mempererat ukhuwah, serta menjawab berbagai tantangan sosial yang berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Khofifah menegaskan keberhasilan berbagai program tersebut memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari ulama, pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjutnya, berkomitmen terus menjadikan MUI sebagai mitra strategis dalam menghadirkan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
“Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, MUI merupakan mitra strategis dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya saing. Saya meyakini, dengan semangat kebersamaan, cita-cita mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara yang maju, adil, makmur, dan penuh keberkahan insya Allah dapat kita wujudkan bersama,” katanya.
Di akhir sambutannya, Khofifah menyampaikan selamat kepada seluruh pengurus MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030. Ia berharap amanah yang diemban dapat dijalankan dengan penuh keikhlasan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh masyarakat Jawa Timur, saya menyampaikan selamat dan sukses, semoga amanah yang diemban senantiasa memperoleh bimbingan Allah SWT demi kemajuan Jawa Timur dan Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Jawa Timur Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar mengatakan kepengurusan baru akan memulai langkah dengan memperkuat pemahaman seluruh pengurus mengenai tugas, fungsi, dan peran strategis MUI. Ia menjelaskan MUI Jawa Timur memiliki 23 badan, komisi, dan lembaga yang didukung tenaga profesional dari berbagai bidang.
Menurutnya, seluruh perangkat organisasi tersebut akan diarahkan untuk membangun sinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan lainnya.
“Sinergi itu akan terus kita lakukan antara MUI dan kelompok-kelompok strategis baik itu jajaran pemerintahan secara horizontal maupun secara vertikal,” ujarnya.
Abdul Halim juga mengungkapkan MUI telah menyiapkan penguatan dakwah berbasis platform digital sebagaimana didorong Gubernur Khofifah. Langkah tersebut dipandang penting sebagai respons atas meningkatnya berbagai persoalan sosial yang dipengaruhi perkembangan media sosial.
Ia menyebut audiensi yang dilakukan beberapa waktu lalu menghasilkan banyak masukan mengenai meningkatnya berbagai bentuk patologi sosial di tengah masyarakat sehingga dakwah digital menjadi salah satu solusi yang akan terus dikembangkan MUI Jawa Timur.
“MUI sudah menyiapkan itu sebenarnya. Tempo hari kira-kira dua minggu yang lalu kita sudah lakukan audiensi dan itu banyak sekali masukan-masukan bahwa di masyarakat kita sudah banyak terjadi patologi sosial di masyarakat,” tutupnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar