Randupitu Pasuruan Ubah Sampah Jadi Cuan, Produksi RDF Capai Tonan

Selasa, 10 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas pengolahan sampah menjadi RDF dan kompos di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, 2025. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Aktivitas pengolahan sampah menjadi RDF dan kompos di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, 2025. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

PASURUAN, RadarBangsa.co.id — Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diubah menjadi sumber ekonomi. Melalui pengelolaan terpadu sejak 2017, desa ini berhasil mengolah belasan ton sampah rumah tangga per hari menjadi bahan bakar alternatif dan kompos dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Inisiatif ini bermula dari sekelompok pemuda desa yang mendorong gerakan lingkungan bersih atau zero waste. Upaya tersebut kemudian didukung penuh oleh pemerintah desa hingga berkembang menjadi sistem pengelolaan berkelanjutan yang berjalan sembilan tahun. Sampah dikumpulkan dari rumah tangga warga Randupitu, dipilah, lalu diolah sesuai jenisnya.

Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, mengatakan pengelolaan sampah telah menjadi program strategis desa.
“Alhamdulillah, kami sudah berjalan selama sembilan tahun, sejak 2017 sampai 2025, dalam pengelolaan sampah Desa Randupitu,” ujarnya, Senin (09/2/2026).

Menurut Fuad, sampah basah yang terkumpul mencapai sekitar 10 ton per hari dan setelah proses pengolahan menghasilkan sekitar 6 ton. Hasil tersebut dikirim ke PT KCS untuk diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar pengganti batu bara.
“Sampah plastik, kardus, dan material bernilai jual lainnya langsung kami jual ke pengepul atau pabrik,” jelasnya.

Sementara itu, sampah organik diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan sebagai media tanam dan dibagikan gratis kepada warga. Sebagian lainnya diolah menjadi pakan maggot yang digunakan untuk budidaya lele dan ayam. Skema ini tidak hanya mengurangi residu sampah, tetapi juga menekan biaya produksi pertanian dan perikanan warga.

Lebih jauh, pengelolaan sampah Randupitu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Model ini dinilai sejalan dengan kebijakan pengurangan sampah dan transisi energi, sekaligus berdampak langsung pada ekonomi lokal.

“Kami berharap inovasi di Desa Randupitu bisa ditiru desa-desa lain. Sampah bukan lagi beban, tapi peluang,” pungkas Fuad.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Berita Terbaru