MALANG, RadarBangsa.co.id — Pemerintah Kabupaten Malang menutup rangkaian kegiatan peningkatan kesiapsiagaan dan mitigasi risiko bencana di Kecamatan Ampelgading dengan simulasi vertical rescue di kawasan wisata Coban Srengenge, Desa Tirtomarto. Kegiatan ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kemampuan pertolongan cepat di destinasi wisata alam yang memiliki kontur curam dan berisiko tinggi.
Simulasi dilakukan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Malang bersama relawan Desa Tangguh Bencana (Destana). Proses penyelamatan korban tiruan diperagakan secara utuh, mulai dari pembukaan jalur, pemasangan sistem tali, hingga evakuasi korban dari tebing air terjun ke titik aman.
Bupati Malang H. M. Sanusi, yang akrab disapa Abah Sanusi, memimpin langsung kegiatan tersebut. Ia hadir didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Malang selaku ex officio Kepala BPBD, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Dandim Kabupaten Malang, serta Kapolres Malang. Seluruh pimpinan daerah menyaksikan langsung simulasi sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sistem keselamatan wisata.
Dalam sambutannya, Abah Sanusi menegaskan bahwa sektor wisata alam membutuhkan kesiapsiagaan ekstra seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan setiap tahun. Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata.
“Keselamatan wisatawan bukan pilihan, tetapi kewajiban. Pemerintah Kabupaten Malang berkomitmen memastikan destinasi alam tidak hanya indah, tetapi juga aman. Simulasi ini menunjukkan keseriusan kami dalam mempercepat respon saat terjadi keadaan darurat,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemampuan teknis penyelamatan di medan ekstrem harus terus diasah, khususnya bagi relawan lokal dan pengelola wisata yang berada di garis depan.
“Ketika menit-menit pertama ditangani dengan tepat, nyawa bisa terselamatkan. Karena itu, latihan seperti ini harus menjadi budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial,” lanjut Abah Sanusi.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Malang menekankan pentingnya integrasi antara pengelola wisata, relawan, dan aparat keamanan. Menurutnya, kejelasan peran dan prosedur akan mencegah kebingungan saat terjadi situasi darurat.
“Vertical rescue sangat relevan di kawasan wisata berbasis tebing dan air terjun seperti Coban Srengenge. Semua pihak harus tahu tugas, jalur evakuasi, dan standar operasionalnya,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang menilai simulasi ini memberi gambaran nyata tantangan penyelamatan di lapangan. Medan ekstrem menuntut ketelitian, kekompakan tim, dan koordinasi lintas sektor yang solid.
Simulasi ini menjadi penutup rangkaian kegiatan kesiapsiagaan, setelah sebelumnya dilakukan pelatihan peningkatan kapasitas relawan dan penyaluran bantuan sosial. Pemkab Malang berharap praktik serupa dapat diterapkan di destinasi wisata alam lain yang berisiko, sehingga Coban Srengenge menjadi contoh wisata berbasis mitigasi bencana yang mengutamakan keselamatan tanpa mengurangi daya tarik alamnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar