SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Derasnya perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Di tengah perubahan tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, mengajak mahasiswa dan santri tetap menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan.
Pesan itu disampaikan Ning Lia saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga membaur dan berdialog dengan mahasiswa yang tinggal di lingkungan pesantren.
Menurut Ning Lia, Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mempelajari keteladanan Rasulullah SAW, terutama dalam membangun karakter, kepedulian sosial, kejujuran, kesabaran serta sikap menghormati sesama.
“Maulid Nabi adalah momentum bagi kita untuk kembali belajar tentang akhlak Rasulullah. Terlebih bagi generasi muda dan mahasiswa, ilmu yang tinggi harus berjalan beriringan dengan adab dan akhlak yang baik,” ujar Ning Lia.
Ia menilai lingkungan pondok pesantren mahasiswa memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Kehidupan pesantren memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga belajar mandiri, disiplin, bertanggung jawab dan membangun kebersamaan.
Pesan tersebut dinilai semakin relevan karena generasi muda saat ini tumbuh berdampingan dengan teknologi dan media sosial. Arus informasi yang begitu cepat membuat kemampuan akademik perlu diimbangi dengan pegangan nilai agar kemajuan teknologi tetap digunakan secara bijak.
“Generasi sekarang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Karena itu, keteladanan Rasulullah tetap sangat relevan. Bagaimana menjaga ucapan, menghormati orang lain, menyampaikan sesuatu yang baik, dan memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar,” tuturnya.
Ning Lia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan masa pendidikan untuk memperluas pengalaman. Menurutnya, proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi juga melalui kehidupan bermasyarakat, organisasi, pesantren serta interaksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah berlangsung dalam suasana hangat. Mahasiswa, santri dan para tamu berbaur dalam kegiatan yang sekaligus menjadi ruang memperkuat ukhuwah dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Bagi Ning Lia, pesantren mahasiswa mempunyai posisi penting karena mempertemukan tradisi keilmuan perguruan tinggi dengan pendidikan karakter yang tumbuh dalam lingkungan pesantren.
Ia berharap mahasiswa yang menjalani kehidupan di pesantren nantinya tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan kemauan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ilmu menjadi semakin bermakna ketika membawa manfaat bagi orang lain. Semangat itulah yang harus terus kita jaga, termasuk melalui keteladanan yang telah dicontohkan Rasulullah SAW,” pungkas Ning Lia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar