SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Senator asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak mahasiswa dan pelajar lebih bijak dalam menggunakan media sosial melalui Program Puasa Digital yang digelar di STIKOSA AWS Surabaya, Rabu (25/2/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam Forum Komunikasi Terbuka MUNIO itu menjadi ruang refleksi di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda.
Acara tersebut dihadiri Ketua STIKOSA AWS Jonathan Kristiono, Humas STIKOSA AWS Hari Widodo, Dosen Ilmu Komunikasi Suprihatin, serta mahasiswa dan siswa SMK Prapanca 1 dan 2 Surabaya.
Dalam paparannya, Lia Istifhama—yang akrab disapa Ning Lia—menekankan pentingnya membangun karakter dan pondasi keluarga di tengah era digitalisasi. Menurutnya, derasnya arus media sosial tanpa penguatan nilai dapat memicu krisis identitas pada generasi muda.
“Menjadi pribadi hebat bukan diukur dari seberapa aktif kita di media sosial, tetapi seberapa kuat karakter dan pondasi diri yang dibangun dari keluarga,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa tekanan ekonomi dan kesibukan orang tua kerap membuat komunikasi keluarga berkurang. Dampaknya, anak-anak lebih banyak mencari validasi di ruang digital dibanding di lingkungan nyata.
Ning Lia mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam ilusi dunia maya. Fenomena konten viral, penyebaran isu negatif, hingga ancaman serangan siber menunjukkan bahwa ruang digital memiliki risiko yang tidak bisa disepelekan.
“Media sosial itu bukan dunia nyata. Jangan sampai hidup kita seperti di dalam akuarium. Sosmed hanyalah sarana komunikasi, bukan tempat kita menggantungkan identitas diri,” tegasnya.
Ia juga berbagi pengalaman pribadi ketika akun media sosialnya pernah diretas. Peristiwa itu menjadi titik refleksi baginya untuk lebih selektif membagikan kehidupan pribadi di ruang publik digital.
“Di media sosial kita memang bisa berkarya. Tapi suatu saat bisa saja kita diserang, bahkan mengalami peretasan. Sejak saat itu saya memilih tidak lagi memposting hal-hal pribadi,” ungkapnya.
Menurutnya, penggunaan media sosial yang berlebihan sering kali menyita waktu produktif tanpa disadari. Karena itu, ia selalu mengingatkan anak-anaknya untuk bijak menggunakan gawai.
“Apa pun yang ada di luar sana bukan sepenuhnya dunia nyata. Yang paling penting tetap keluarga, orang tua, dan teman yang benar-benar kita kenal di kehidupan nyata,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua STIKOSA AWS Jonathan Kristiono menyatakan Program Puasa Digital menjadi bagian dari upaya kampus membangun kesadaran literasi digital yang sehat di kalangan mahasiswa.
“Sosial media bukan pondasi hidup kita. Pondasi hidup adalah keluarga, empati, dan relasi nyata,” katanya.
Program ini mendorong mahasiswa mengatur waktu penggunaan gawai, membatasi konsumsi konten digital, serta meningkatkan interaksi sosial secara langsung.
Di tengah tingginya penetrasi internet dan media sosial di Indonesia, edukasi literasi digital dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Kampus, menurut para peserta diskusi, memiliki peran strategis membentuk generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga matang secara emosional dan etis.
Melalui gerakan puasa digital, mahasiswa diajak menyadari bahwa media sosial adalah alat, bukan tujuan hidup. “Sosial media itu alat komunikasi, bukan pengganti hubungan nyata. Teman yang sesungguhnya adalah mereka yang hadir di kehidupan nyata,” pungkas Ning Lia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar