SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Ada yang berbeda dalam prosesi Wisuda XXXIII Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taruna Surabaya pada Sabtu (30/8/2028). Di penghujung acara, suasana auditorium mendadak hening saat lagu “Ibu Pertiwi” dilantunkan. Syairnya yang menyentuh hati seakan menggambarkan kondisi bangsa Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial.
“Ibu Pertiwi sedang bersusah hati… hutan, gunung, sawah, lautan… kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa.”
Untaian lirik itu menggema, mengundang rasa haru sekaligus refleksi bagi para wisudawan, dosen, hingga tamu undangan.
Ketua Yayasan UNITA sekaligus anggota MPR RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, menjelaskan bahwa pemilihan lagu tersebut bukan tanpa alasan. “Kita semua tentu sangat prihatin atas situasi sosial bangsa kita. Semoga kita bisa menjadi agen keberlangsungan bangsa, yang menjaga agar kondisi negara kita semakin membaik,” ujarnya usai menyampaikan orasi ilmiah.
Momen tersebut mendapat sambutan emosional dari peserta wisuda. Muhammad, salah satu wisudawan, mengaku tersentuh. “Saya terenyuh sekali, Ning Lia membuat kita introspeksi dan kontemplasi kondisi negara saat ini,” ucapnya.
Dalam orasinya, Ning Lia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan membangun kepercayaan publik di tengah dinamika bangsa. Ia mengutip pemikiran Ibnu Khaldun tentang siklus kehidupan masyarakat dan pemerintahan, yang berpotensi berakhir pada kondisi “low trust society” jika tidak dikelola dengan baik.
“Kita lahir sebagai pengejawantahan khairunnas anfa’uhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Jika negara gagal menjaga kepercayaan, maka yang muncul adalah low trust, bukan high trust. Masyarakat akan kehilangan keyakinan satu sama lain. Di sinilah pentingnya peran generasi muda untuk menjaga keberlangsungan bangsa,” tegas Ning Lia.
Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan jabatan formal. “Seorang pemimpin bisa saja seorang ibu, pekerja, atau penggerak masyarakat. Jika anak muda berkarya dan berkontribusi, maka Indonesia akan semakin maju,” tambahnya.
Wisuda kali ini turut dihadiri jajaran pimpinan STAI Taruna Surabaya, antara lain Ketua STAI Zuman Malaka, para wakil ketua, serta kepala program studi seperti Nasiri, Lailatu Zahroh, Fathurrohman, Mila Mahmudah, Muhammad Wahzudi, Habibur Rochman, Saiul Anah, dan Imam Sujono.
Melalui momen sakral tersebut, STAI Taruna Surabaya tidak hanya melepas para lulusan ke dunia kerja, tetapi juga menanamkan pesan moral agar mereka berperan sebagai agen perubahan sosial. Lantunan “Ibu Pertiwi” pun menjadi pengingat, bahwa perjalanan bangsa memerlukan kepedulian dan kontribusi nyata dari generasi muda.
Lainnya:
- PAUD Lentera Lamongan: Anak Dikenalkan Pemimpin dan Layanan Publik Sejak Dini
- Hardiknas 2026, Khofifah Gaspol Sekolah Berintegritas, Sapu Rekor MURI
- Hardiknas 2026: Khofifah Luncurkan 40 Sekolah Berintegritas, Ubah Cara Didik Siswa
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








