Skandal Sertifikat Tanah di Lamongan, 15 Bidang Berpindah Tangan

Jumat, 8 Agustus 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Didampingi kuasa hukum, warga Desa Dadapan mendatangi Polres Lamongan untuk mengadukan dugaan sertifikat tanah berpindah nama tanpa sepengetahuan mereka. (Foto Dok Ho/RadarBangsa)

Didampingi kuasa hukum, warga Desa Dadapan mendatangi Polres Lamongan untuk mengadukan dugaan sertifikat tanah berpindah nama tanpa sepengetahuan mereka. (Foto Dok Ho/RadarBangsa)

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Dugaan praktik mafia tanah kembali mencuat di Lamongan. Sebanyak 15 sertifikat milik warga Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, diduga berpindah tangan secara ilegal tanpa sepengetahuan pemilik aslinya.

Kasus ini resmi dilaporkan ke Polres Lamongan pada Jumat, (8/8/2025), oleh warga yang didampingi penasihat hukum mereka, Naning Erna Susanti. Laporan dilayangkan setelah warga mendapati tanah warisan mereka telah bersertifikat atas nama orang lain.

Permasalahan mulai terungkap saat warga mengajukan kepemilikan tanah melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tahun 2023. Namun alih-alih mendapatkan sertifikat, mereka justru diberi kabar mengejutkan.

“Panitia menyatakan tanah milik warga masuk kategori K4, padahal seluruh persyaratan dan biaya sudah dipenuhi sesuai ketentuan,” ujar Naning, kepada wartawan.

Ia menjelaskan, warga membayar biaya administrasi pendaftaran antara Rp500 ribu hingga Rp750 ribu, tergantung luas bidang tanah. Namun setelah muncul status bermasalah, seluruh dokumen dan dana dikembalikan tanpa penjelasan memadai.

Yang lebih mengejutkan, kata Naning, adalah ketika warga mengetahui bahwa tanah yang diajukan dalam program PTSL ternyata sudah memiliki sertifikat—namun atas nama pihak lain.

“Kami menduga ada proses yang tidak wajar. Warga sama sekali tidak pernah menjual tanah itu,” ujarnya.

Salah satu pelapor, Mudzakir, menuturkan bahwa awal mula persoalan ini terjadi lebih dari satu dekade lalu. Sekelompok orang sempat datang ke desa menawarkan pembelian lahan milik warga sekitar tahun 2013, namun ditolak karena sebagian besar tanah tersebut merupakan warisan keluarga.

“Tidak ada yang menjual tanahnya. Ini warisan orang tua kami. Tapi tiba-tiba, pada 2017 atau 2018, sertifikat atas nama orang lain muncul,” jelas Mudzakir.

Ia dan warga lain baru mengetahui peralihan nama sertifikat itu saat mengikuti program PTSL pada 2023. Fakta tersebut menimbulkan kecurigaan akan adanya praktik penyalahgunaan kewenangan yang melibatkan oknum aparat desa di masa lalu.

“Sertifikat tidak mungkin terbit tanpa tanda tangan dan rekomendasi kepala desa. Kami menduga ada peran perangkat desa sebelumnya,” tambahnya.

Akibat kejadian ini, sekitar dua hektare lahan yang merupakan hak milik warga kini telah berpindah kepemilikan. Kasus ini menambah daftar panjang persoalan agraria di tingkat desa yang masih kerap menyisakan persoalan hukum dan sosial.

Pihak Pemerintah Desa Dadapan menyatakan siap bekerja sama untuk mengungkap kebenaran. “Kami terbuka untuk membantu proses penyelidikan. Data administrasi desa juga siap kami serahkan jika dibutuhkan,” ujar salah satu pejabat desa saat dikonfirmasi.

Warga kini berharap pihak kepolisian, kejaksaan, hingga Kementerian ATR/BPN turun tangan secara serius. Mereka mendesak agar dugaan praktik mafia tanah ini tidak berhenti pada permukaan.

“Kalau tidak ditangani serius, akan banyak warga desa yang menjadi korban seperti kami,” tegas Naning.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras
Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap
Polisi Ungkap Pencurian Dana BNI Rp42,05 Juta di Ukui
Truk Hilang di Paciran, Terduga Pelaku Diamankan Polisi di Blora
Cekcok Soal Cincin Tunangan Berujung Penusukan di Lamongan
Polres Lamongan Ungkap Peredaran Sabu di Tikung, Dua Tersangka Diamankan
Pengoplosan LPG Subsidi di Pasuruan Terbongkar, 8 Orang Jadi Tersangka
Pengeroyokan Remaja di Lamongan, 5 Terduga Pelaku Diamankan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:03

Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:44

Polisi Ungkap Pencurian Dana BNI Rp42,05 Juta di Ukui

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:27

Truk Hilang di Paciran, Terduga Pelaku Diamankan Polisi di Blora

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:28

Cekcok Soal Cincin Tunangan Berujung Penusukan di Lamongan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:39

Polres Lamongan Ungkap Peredaran Sabu di Tikung, Dua Tersangka Diamankan

Berita Terbaru