Tarif Ojol Ditekan Promo, Anggota DPD RI Lia Istifhama Minta Pemerintah Pusat Blokir Aplikator Nakal

Rabu, 3 September 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Kiri) Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

(Kiri) Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gelombang protes dari pengemudi ojek online (ojol) terus bergulir di Jawa Timur. Mereka menilai kebijakan promo besar-besaran dari aplikator membuat pendapatan terjun bebas dan melanggar aturan tarif yang sudah ditetapkan pemerintah. Persoalan ini akhirnya mendapat perhatian dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia.

Dalam audiensi dengan Komunitas Frontal Jawa Timur di Kantor DPD RI, Senin (3/9/2025), para pengemudi menyampaikan keluhannya secara langsung. Perwakilan komunitas, Richo Suroso, menyebutkan banyak mitra driver yang tertekan karena sistem suspend dan kebijakan diskon yang dianggap tidak transparan.

“Norma standar prosedur belum jelas, sanksi dan sistem suspend juga sering memberatkan mitra driver. Banyak keberatan yang disuarakan, tapi aplikator seolah jalan sendiri tanpa kontrol,” kata Richo.

Keluhan juga datang dari driver roda empat dan pengiriman barang. Menurut mereka, tarif ideal untuk mobil seharusnya Rp3.800 per kilometer, namun aplikator kerap mengabaikan aturan. Sementara untuk pengiriman barang, tarif bisa di bawah Rp50 ribu meski sudah memperhitungkan bahan bakar, tenaga, dan waktu kerja.

“Kami sudah tiga bulan menuntut penyesuaian tarif, tapi aplikator tetap cuek. Ini membuat driver tercekik dan seolah dipermainkan,” ujarnya.

Di tingkat daerah, sebenarnya sudah ada regulasi yang melindungi pengemudi. Pada Juli 2023, Gubernur Jawa Timur saat itu, Khofifah Indar Parawansa, mengeluarkan Keputusan Gubernur terkait pengawasan tarif transportasi berbasis aplikasi. Kebijakan serupa juga diterapkan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang menegaskan larangan promo aplikator karena merugikan mitra.

Namun, Richo menilai aturan daerah tidak cukup kuat.

“Provinsi tidak punya kewenangan untuk memblokir aplikator nakal. Pemerintah pusat, khususnya Kominfo, harus hadir dengan sanksi tegas,” tegasnya.

Mendengar aspirasi tersebut, Ning Lia mendesak Komdigi segera mengambil langkah konkret. Ia menilai Dishub maupun pemerintah daerah punya keterbatasan, sehingga peran kementerian sangat vital untuk menekan aplikator agar tidak merugikan mitra driver.

“Kalau aplikator seenaknya merugikan driver, Komdigi jangan ragu memberi sanksi bahkan memblokir sementara. Negara harus hadir melindungi rakyatnya, bukan membiarkan korporasi raksasa menekan para pekerja,” ujar Ning Lia.

Menurutnya, masalah ini bukan sekadar soal tarif, melainkan menyangkut keadilan ekonomi. Status “mitra” yang disematkan kepada pengemudi sering dijadikan alasan aplikator lepas dari kewajiban perlindungan, padahal praktik di lapangan menunjukkan mereka diperlakukan layaknya pekerja tetap.

“Driver online ini disebut mitra, tapi perlakuannya seperti pekerja tanpa perlindungan. Itu jelas tidak adil,” tambahnya.

Senator asal Jawa Timur tersebut menekankan pentingnya regulasi yang lebih kuat dari pemerintah pusat agar aturan daerah tidak berhenti sebatas formalitas.

“Kalau aplikatornya masih nakal, driver tetap rugi. Kalau sudah dihentikan, ditutup, lalu dipaksa menormalkan tarif, saya rasa keadilan bisa tercapai,” tandasnya.

Putri ulama kharismatik KH Maskur Hasyim itu menutup pernyataannya dengan harapan agar Komdigi menghadirkan kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan aplikator, pemerintah, dan para pengemudi.

“Perjuangan driver ojol ini bukan sekadar soal tarif, tapi tentang keberlangsungan hidup ribuan keluarga. Negara tidak boleh abai terhadap suara rakyat kecil yang menopang roda ekonomi digital,” pungkas Ning Lia.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh
PERWOSI Lamongan Periode 2025–2029 Dilantik, Bidik Atlet Perempuan hingga Pelosok Desa
Produksi Garam Lamongan Baru 1.317 Ton, Pemkab Optimistis Kejar Target 20.000 Ton
PSC 119 RSUD HMR Raih Gold Status, Respons Kurang dari 10 Menit Jadi Kunci Penanganan Stroke
2.432 Kader TP PKK Dilibatkan, Kota Mataram Perkuat Jejaring Siaga Stroke

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Rabu, 16 September 2026 - 18:13

Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga

Rabu, 16 September 2026 - 18:03

Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke

Rabu, 16 September 2026 - 17:58

95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Rabu, 16 September 2026 - 14:43

PERWOSI Lamongan Periode 2025–2029 Dilantik, Bidik Atlet Perempuan hingga Pelosok Desa

Berita Terbaru