Teknologi Sensor dan Standar Steril : Menengok Ruang Bayi Tabung RSUD Mataram yang Serba Canggih

Sabtu, 12 Juli 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tenaga medis RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melakukan sterilisasi tangan di area khusus berteknologi sensor. Setiap prosedur dilakukan tanpa sentuhan langsung, sebagai bagian dari protokol ketat menuju ruang tindakan bayi tabung. | Foto Dok Ho/ RadarBangsa

Tenaga medis RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram melakukan sterilisasi tangan di area khusus berteknologi sensor. Setiap prosedur dilakukan tanpa sentuhan langsung, sebagai bagian dari protokol ketat menuju ruang tindakan bayi tabung. | Foto Dok Ho/ RadarBangsa

MATARAM, RadarBangsa.co.id – Suasana hening menyambut setiap langkah menuju ruang tindakan program bayi tabung di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Sebuah lorong steril menjadi pintu gerbang awal, di mana teknologi dan protokol medis bertemu dalam harmoni yang nyaris tak bersuara. Di dinding, hanya tampak simbol larangan dan kode sterilisasi—tanda bahwa setiap elemen di area ini berada dalam kendali penuh standar kebersihan kelas tinggi.

“Setiap orang yang masuk ke sini wajib steril tanpa kompromi,” ungkap Direktur RSUD H. Moh. Ruslan, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc, dikutip dari Lombok post, Selasa (8/7). Ia tidak hanya menjabat sebagai pimpinan rumah sakit rujukan milik Pemkot Mataram itu, tapi juga dikenal sebagai dokter spesialis kandungan dengan fokus khusus di bidang fertilitas.

Sebagai figur sentral dalam pengembangan layanan bayi tabung pertama di Nusa Tenggara Barat, dr. Eka menjelaskan bahwa ruang tindakan tersebut bukan sekadar ruang medis biasa. “Ini area yang sangat sensitif. Maka seluruh personel, termasuk kami yang bertugas, harus menggunakan APD steril lengkap, mulai dari baju khusus, masker, penutup kepala, hingga sandal yang tak boleh digunakan di luar ruangan,” jelasnya.

Satu prosedur penting dilakukan sebelum masuk: sterilisasi berlapis manual dan otomatis. Tak ada keran yang harus diputar. Wastafel, sabun, hingga air, semua dikendalikan oleh sensor gerak. “Kami meminimalisasi sentuhan karena satu sentuhan saja bisa membawa jutaan mikroorganisme. Sistem sensor menghilangkan potensi itu,” ujar dr. Eka sembari mendemonstrasikan teknologi tersebut.

Menariknya, pintu menuju ruang tindakan tidak dibuka dengan tangan seperti umumnya. Pilihannya hanya dua: sensor kaki atau sensor tangan. “Kalau tangan masih basah setelah sterilisasi, kami pakai sensor kaki. Itu bagian dari protokol,” tambahnya.

Masuk ke ruang tindakan, atmosfer berubah drastis. Ruangan tertata steril, lampu operasi HEISZ menyala redup dengan intensitas yang bisa diatur presisi. Di dinding, terpasang panel gas digital dan manual yang menyuplai Oksigen (O₂) dan Karbon Dioksida (CO₂) dengan tekanan tertentu. “Calon embrio hanya bisa hidup di lingkungan yang sangat spesifik. Maka pengaturan gas harus tepat,” jelasnya.

Panel digital memang mempermudah, tapi RSUD Moh. Ruslan tetap menyiapkan panel manual sebagai cadangan. “Keselamatan pasien dan embrio adalah prioritas. Semua harus dicek ganda,” tegasnya.

Ruang ini bukan sekadar tempat tindakan medis, melainkan ruang awal bagi harapan. Tidak sedikit pasangan dari berbagai daerah, bahkan luar provinsi, yang datang dengan harapan besar mendambakan hadirnya buah hati setelah bertahun-tahun menunggu.

“Di ruang ini, kami bekerja dengan ketelitian dan dedikasi tinggi. Karena di sinilah, awal kehidupan itu dimulai,” tutur dr. Eka dengan sorot mata penuh keyakinan, menatap ruang inkubator tempat embrio dipantau dengan seksama.

Program bayi tabung di RSUD Mataram bukan hanya lompatan besar dalam dunia layanan kesehatan, tetapi juga bentuk nyata bahwa daerah mampu membangun fasilitas berkelas nasional, bahkan mendekati standar internasional, jika didukung oleh komitmen dan integritas.

“Setiap pasien yang masuk membawa harapan. Tugas kami menjaga agar harapan itu tetap hidup dan tumbuh,” pungkas dr. Eka, menutup perbincangan.

Penulis : Aini

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

PERWOSI Lamongan Periode 2025–2029 Dilantik, Bidik Atlet Perempuan hingga Pelosok Desa
Produksi Garam Lamongan Baru 1.317 Ton, Pemkab Optimistis Kejar Target 20.000 Ton
PSC 119 RSUD HMR Raih Gold Status, Respons Kurang dari 10 Menit Jadi Kunci Penanganan Stroke
2.432 Kader TP PKK Dilibatkan, Kota Mataram Perkuat Jejaring Siaga Stroke
Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu
Di Hadapan 109 Mahasiswa Unhan, Khofifah Paparkan Potensi Pangan Jatim Menuju Kedaulatan Nasional
Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September
Kemnaker-Baznas Perluas Akses Kerja Inklusif, Disabilitas hingga Magang ke Jepang

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 14:43

PERWOSI Lamongan Periode 2025–2029 Dilantik, Bidik Atlet Perempuan hingga Pelosok Desa

Rabu, 16 September 2026 - 14:36

Produksi Garam Lamongan Baru 1.317 Ton, Pemkab Optimistis Kejar Target 20.000 Ton

Rabu, 16 September 2026 - 13:58

PSC 119 RSUD HMR Raih Gold Status, Respons Kurang dari 10 Menit Jadi Kunci Penanganan Stroke

Rabu, 16 September 2026 - 13:52

2.432 Kader TP PKK Dilibatkan, Kota Mataram Perkuat Jejaring Siaga Stroke

Rabu, 16 September 2026 - 13:08

Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu

Berita Terbaru