288 Rumah Terdampak Angin Kencang, Sidoarjo Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Sabtu, 7 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sidoarjo Subandi saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Alun-alun Sidoarjo, Jumat (6/11/2026). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

Bupati Sidoarjo Subandi saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Alun-alun Sidoarjo, Jumat (6/11/2026). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Ancaman bencana hidrometeorologi di Kabupaten Sidoarjo menjadi perhatian serius pemerintah daerah menjelang musim hujan 2026–2027. Sepanjang Januari hingga 1 November 2026, tercatat 28 kejadian bencana, dengan angin kencang menjadi ancaman paling dominan.

Data kebencanaan Kabupaten Sidoarjo mencatat 21 kejadian angin kencang, empat banjir, dan tiga kekeringan. Dampak angin kencang bahkan meluas hingga 14 kecamatan dan 63 desa, dengan 288 rumah warga mengalami kerusakan ringan.

Menghadapi potensi peningkatan ancaman tersebut, Bupati Sidoarjo H. Subandi menginstruksikan seluruh camat segera mengaktifkan posko bencana di wilayah masing-masing. Penguatan koordinasi lintas sektor juga menjadi bagian dari langkah antisipasi pemerintah daerah.

Instruksi itu disampaikan Subandi saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Alun-alun Sidoarjo, Jumat (6/11/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 400 peserta dari unsur TNI, Polri, BPBD, perangkat daerah, Basarnas Surabaya, PLN Sidoarjo, PMI, dan relawan.

“Saya instruksikan masing-masing kecamatan mengaktifkan posko bencana. Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan. Bencana ini tidak bisa diperkirakan secara pasti, sehingga satu-satunya jawaban adalah kesiapsiagaan kita,” tegas Subandi.

Untuk mendukung penanganan di lapangan, Pemkab Sidoarjo menyiapkan 17 unit pompa air, empat perahu karet, 51 kendaraan operasional, ambulans, 10 sepeda motor trail, serta 12 mobil pemadam kebakaran.

Kesiapan juga mencakup sarana pendukung pengungsian dan penanganan darurat, yakni 40 tenda pengungsian, dua dapur umum, 20 genset, dan 50 gergaji mesin.

Selain armada dan logistik, pemerintah daerah mengoptimalkan 32 rumah air yang tersebar di enam kecamatan, yakni Taman, Tanggulangin, Sidoarjo, Waru, Candi, dan Porong.

Sistem komando penanganan bencana diperkuat melalui satu posko siaga utama di bawah kendali BPBD serta empat posko satelit di Tanggulangin, Porong, Candi, dan Jabon. Posko tersebut disiapkan untuk segera diaktifkan ketika terjadi banjir.

Di sisi infrastruktur, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) terus melakukan normalisasi sungai dan saluran air. Pemetaan berkala kawasan perkotaan juga diperbarui untuk mendukung pengendalian genangan.

Salah satu pekerjaan yang telah direalisasikan adalah pembangunan dam berukuran besar yang disertai normalisasi intensif di wilayah Kedungpeluk, Kecamatan Candi.

Subandi mengakui kondisi geografis Sidoarjo sebagai wilayah delta dan dataran rendah menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian banjir. Terlebih, sejumlah kawasan juga menghadapi pengaruh pasang air laut atau rob.

“Kalau air laut atau rob meluap, air di daratan tidak bisa langsung kita keluarkan begitu saja. Kita harus menunggu sampai kondisi pasang-surut air laut memungkinkan, baru pompa pembuangan bisa bekerja maksimal,” jelasnya.

Karena itu, penanganan bencana tidak hanya difokuskan pada banjir. Pemkab Sidoarjo juga menyiapkan mitigasi terhadap potensi angin puting beliung, kebakaran, hingga kekeringan.

Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam bahan informasi pemerintah daerah, musim hujan di Sidoarjo diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027. Puncak curah hujan diproyeksikan terjadi pada Februari 2027.

Meski durasi musim hujan diperkirakan lebih singkat, fenomena El Nino yang diproyeksikan bertahan hingga Februari 2027 disebut membuat pola cuaca cenderung ekstrem dan sulit diprediksi.

Subandi pun mengapresiasi keterlibatan aparat keamanan, instansi vertikal, perangkat daerah, dan relawan dalam upaya penanggulangan bencana. Ia berharap kolaborasi seluruh unsur tersebut terus diperkuat agar perlindungan terhadap masyarakat dapat berjalan optimal.

Penulis : Tom

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Tak Perlu Ajukan Surat, Sidoarjo Hapus Denda PBB hingga Pajak Restoran
Dua Kali Didatangi Pagi Hari, LSM BPPI Soroti Kantor Desa Rancahan
Kisruh Dana dan Data, MBG di Empat Sekolah Lamongan Terhenti
Dulu Belajar Beralaskan Karpet, Murid TK Kartika Lamongan Kini Bertambah
Jombang Berangkatkan 289 Atlet, Dua Medali Emas Sudah Diraih Sebelum POPDA Dibuka
Jombang Raih ATM Award 2026, Inovasi Skrining TBC Jadi Salah Satu Sorotan
Jembatan Sentong Sudah Dibuka, Hak Pekerja Justru Tertinggal: Upah Sebulan Diduga Belum Dibayar
Dua Inovasi Banyuwangi Tekan Pengangguran dan Anak Tidak Sekolah

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 07:21

Tak Perlu Ajukan Surat, Sidoarjo Hapus Denda PBB hingga Pajak Restoran

Sabtu, 7 November 2026 - 07:12

288 Rumah Terdampak Angin Kencang, Sidoarjo Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Jumat, 6 November 2026 - 19:23

Dua Kali Didatangi Pagi Hari, LSM BPPI Soroti Kantor Desa Rancahan

Jumat, 6 November 2026 - 17:15

Kisruh Dana dan Data, MBG di Empat Sekolah Lamongan Terhenti

Jumat, 6 November 2026 - 16:14

Dulu Belajar Beralaskan Karpet, Murid TK Kartika Lamongan Kini Bertambah

Berita Terbaru