SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai kesuksesan influencer tidak bisa semata-mata diukur dari popularitas digital. Di tengah arus media sosial yang serba cepat, ketenangan batin serta kesadaran etis justru menjadi faktor penentu apakah pesan yang disampaikan memberi manfaat atau sekadar lewat sebagai sensasi.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Lia saat menjadi pemateri dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) STAI Taruna Surabaya, Minggu (11/1/2026). Di hadapan ratusan mahasiswa, ia menekankan bahwa kegugupan dan tekanan psikologis sering kali menjadi penghambat utama komunikasi publik, khususnya bagi influencer muda.
“Jika ingin berbicara dengan tenang dan pesan dapat diterima dengan baik, jangan melupakan doa. Membaca *rabbi syrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qouli* adalah ikhtiar spiritual agar hati lebih lapang dan ucapan mudah dipahami,” kata Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, saat sesi pemaparan materi.
Menurut Lia, doa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sarana membangun ketenangan psikologis yang berpengaruh langsung pada cara berpikir, bersikap, dan berkomunikasi di ruang publik.
Selain aspek spiritual, Lia mengingatkan pentingnya kejujuran dan ketulusan dalam membangun narasi. Konten yang lahir dari niat baik dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan materi yang hanya mengejar viralitas jangka pendek.
Ia juga mengajak mahasiswa memahami teori komunikasi seperti *hypodermic needle theory* dan *spiral of silence*. Kedua teori tersebut, kata Lia, menunjukkan bahwa pesan di media sosial memiliki daya pengaruh kuat terhadap pembentukan opini publik.
“Konten yang kita produksi bisa memengaruhi cara orang berpikir dan bersikap. Karena itu, influencer harus sadar penuh akan tanggung jawab sosialnya,” ujarnya.
Melalui forum LDKM ini, Lia berharap mahasiswa STAI Taruna Surabaya mampu tumbuh sebagai influencer yang tidak hanya piawai berkomunikasi, tetapi juga beretika dan berkarakter. Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan media sosial Indonesia yang kian berpengaruh, bahkan hingga tingkat global.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








