JEMBER, RadarBangsa.co.id – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyerukan kebangkitan industri gula nasional melalui penguatan peran petani tebu sebagai ujung tombak swasembada pangan. Seruan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pembina APTRI HM Arum Sabil dalam Deklarasi Pengukuhan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono sebagai Ketua Dewan Penasihat APTRI di Jember, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan yang dirangkai dengan panen raya tebu itu menjadi momentum konsolidasi nasional bagi pelaku industri gula. Hadir perwakilan APTRI dari Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, bersama Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara, Anggota DPD RI Lia Istifhama, Bupati Jember Muhammad Fawait, Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra, serta jajaran Forkopimda.
Dalam sambutannya, Arum Sabil mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan sejarah kejayaan industri gula Indonesia sebagai pijakan untuk membangun kembali kemandirian pangan nasional. Menurutnya, Indonesia pernah membuktikan diri sebagai kekuatan besar industri gula dunia sehingga capaian tersebut bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan kembali.
Ia mengungkapkan, pada 1930 Indonesia mampu memproduksi sekitar 3 juta ton gula dan menjadi salah satu penguasa pasar dunia. Pencapaian itu diraih hanya dengan lahan sekitar 200 ribu hektare serta dukungan teknologi yang jauh lebih sederhana dibandingkan saat ini.
“Sejarah panjang industri gula di tanah air tidak boleh sekadar menjadi catatan masa lalu. Ini harus menjadi bahan bakar semangat, bahan bakar perjuangan kita untuk mewujudkan swasembada pangan hari ini,” ujar Arum Sabil, Sabtu (11/7/2026).
Pria yang dikenal dengan topi koboi khasnya itu menilai kondisi tersebut justru menjadi refleksi bagi industri gula nasional. Di tengah perkembangan teknologi dan mekanisasi yang semakin modern, produktivitas gula nasional dinilai belum mampu melampaui capaian para pendahulu.
Karena itu, ia mendorong pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga petani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola industri gula nasional. Menurutnya, peningkatan produktivitas harus dilakukan dari hulu hingga hilir agar target swasembada dapat tercapai.
“Ini merupakan tantangan bagi kita semua. Kehadiran KASAU di barisan penasihat APTRI harus menjadi momentum emas untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Arum Sabil berharap berkumpulnya berbagai elemen strategis di Jember menjadi titik balik kebangkitan industri gula nasional. Sinergi antarpemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan daya saing gula Indonesia di tingkat global.
“Tujuan kita berkumpul di Jember hari ini hanya satu, yaitu menyatukan kekuatan untuk mengembalikan kekayaan dan kejayaan produksi gula nasional kita,” tandasnya.
Dukungan terhadap agenda tersebut juga disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono. Sebagai Ketua Dewan Penasihat APTRI, ia menyatakan komitmennya mendukung percepatan swasembada gula sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.
Menurut Tonny, Indonesia memiliki potensi sumber daya yang besar sehingga ketergantungan terhadap impor gula harus segera dikurangi. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan produksi gula nasional.
“Kami sangat mendukung target Presiden terhadap PT Sinergi Gula Nusantara agar Indonesia kembali mandiri dalam memproduksi gula,” ujarnya.
Ia menambahkan, amanat pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan menjadi tanggung jawab bersama. “Kita diamanahi oleh Presiden untuk fokus terhadap ketahanan swasembada pangan dalam urusan tebu-gula. Maka dari itu, saya punya kewajiban moral membangun kekuatan ini agar kita tidak perlu impor lagi,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi menegaskan bahwa sejarah mencatat Indonesia pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Namun, kondisi tersebut kini berbalik sehingga Indonesia masih menjadi salah satu importir gula terbesar.
“Tahun 1930, Indonesia adalah pengekspor gula pasir dunia terbesar setelah Kuba. Hari ini, kita adalah importir gula terbesar dunia. Ini adalah fakta yang harus tersampaikan sebagai pecut semangat kita semua,” pungkas Mahmudi.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar