BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, pada Kamis (25/9/2025) sore. Guncangan tercatat terjadi pukul 16.04 WIB dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 46 kilometer timur laut Banyuwangi, pada kedalaman 12 kilometer.
Informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Namun, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan.
“Gempa yang terjadi hari ini masih dalam tahap analisis. Informasi yang kami sampaikan mengutamakan kecepatan, sehingga data bisa saja diperbarui seiring masuknya hasil pemantauan lebih lengkap,” tulis akun resmi BMKG melalui platform X, Kamis (25/9/2025).
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa akibat gempa. Namun, sejumlah warga Banyuwangi dan daerah sekitar merasakan guncangan cukup jelas, meski berlangsung singkat.
Seorang warga Kecamatan Wongsorejo, Rudi (34), mengaku kaget ketika merasakan rumahnya bergetar. “Awalnya saya kira ada truk besar lewat, ternyata setelah lihat media sosial memang ada gempa,” ujarnya.
BMKG menyampaikan bahwa wilayah Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, memang termasuk daerah dengan aktivitas seismik cukup tinggi. Hal ini karena letaknya berdekatan dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia di selatan Jawa.
Masyarakat diminta tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, dalam keterangan tertulis, mengimbau warga yang berada di bangunan tinggi untuk segera keluar dengan tertib jika merasakan guncangan kuat.
“Pastikan jalur evakuasi dan titik kumpul diketahui bersama, sehingga bila terjadi gempa susulan, masyarakat bisa lebih siap,” kata BMKG.
Selain itu, warga juga diminta memeriksa kondisi rumah masing-masing, terutama bila terdapat retakan pada dinding atau fondasi, guna mengantisipasi bahaya lebih lanjut.
Sejarah mencatat, wilayah selatan Jawa Timur beberapa kali diguncang gempa dengan magnitudo menengah hingga besar. Aktivitas tektonik di Samudra Hindia menjadi pemicu utama terjadinya gempa bumi di kawasan ini. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan terus digencarkan pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk meminimalkan risiko korban.
BMKG menekankan, meski gempa kali ini tidak menimbulkan tsunami, kewaspadaan harus tetap dijaga. Masyarakat diminta hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.
“Yang terpenting tetap tenang, jangan panik, dan selalu ikuti arahan dari sumber resmi. Kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi bencana,” pungkas BMKG.
Lainnya:
- Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
- Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin
Sumber Berita: sindo








