BPSK Mandek di Daerah, Anggota DPD RI Lia Istifhama Soroti Lemahnya Perlindungan Konsumen

Selasa, 7 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rapat Komite III DPD RI bersama Kemendag bahas BPSK, Senin (6/4/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Rapat Komite III DPD RI bersama Kemendag bahas BPSK, Senin (6/4/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyoroti lemahnya operasional Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di daerah saat rapat kerja Komite III DPD RI bersama Kementerian Perdagangan RI.

Dalam forum tersebut, ia menegaskan perlunya penguatan sistem perlindungan konsumen, khususnya terkait efektivitas lembaga BPSK di tingkat daerah.

Dalam rapat yang berlangsung interaktif, Lia membuka penyampaiannya dengan pantun sebelum mengulas persoalan utama. Ia mengungkapkan bahwa BPSK di Jawa Timur sebenarnya telah terbentuk, namun belum berjalan optimal.

Kendala utama yang dihadapi adalah sentralisasi layanan akibat persoalan penganggaran. Dari seluruh wilayah di Jawa Timur, saat ini hanya lima kabupaten/kota yang mampu mengoperasikan BPSK secara aktif.

Peralihan kewenangan penganggaran dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi disebut menjadi faktor utama terhambatnya operasional lembaga tersebut. Akibatnya, akses masyarakat terhadap penyelesaian sengketa konsumen menjadi terbatas.

“Di Jawa Timur memang sudah terbentuk, namun saat ini ada kendala sentralisasi layanan karena hanya lima kabupaten/kota yang beroperasional. Hal ini disebabkan terkait penganggaran akibat peralihan kewenangan,” ujar Lia Istifhama.

Ia juga menyoroti lemahnya kekuatan eksekusi putusan BPSK. “Putusan BPSK kerap dimentahkan melalui keberatan di Pengadilan Negeri maupun kasasi, sehingga perlu penguatan regulasi,” tegasnya.

Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada perlindungan konsumen, terutama di daerah yang belum memiliki akses BPSK aktif. Masyarakat berpotensi kesulitan mencari keadilan dalam sengketa dengan pelaku usaha.

Lia menilai perlu adanya revisi atau penguatan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. Langkah ini penting untuk memastikan BPSK dapat berfungsi maksimal sebagai lembaga penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

Masukan tersebut diharapkan menjadi perhatian serius bagi Kementerian Perdagangan dalam merumuskan kebijakan ke depan. “Penguatan regulasi sangat penting agar BPSK bisa efektif dan benar-benar melindungi masyarakat,” pungkas Lia.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global
Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik
Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta
Kemnaker Buka InaSkills 2026, Bidik Talenta untuk Kompetisi Dunia
Kemnaker Umumkan Pemenang Anugerah Informasi Publik 2026
Kemnaker Perpanjang Pendaftaran Mitra MagangHub hingga 29 Oktober
Menaker Paparkan Regulasi Baru untuk Perkuat Pelindungan Pekerja
Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak Ibu LDII Lindungi Anak di Ruang Digital

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:18

Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:02

Kapolri Tekankan Integritas Personel serta Pelayanan Humanis untuk Perkuat Kepercayaan Publik

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:39

Kemnaker Verifikasi Mitra MagangHub hingga 30 Oktober, Ini Jadwal Seleksi Peserta

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:23

Kemnaker Buka InaSkills 2026, Bidik Talenta untuk Kompetisi Dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:08

Kemnaker Umumkan Pemenang Anugerah Informasi Publik 2026

Berita Terbaru