KENDAL,RadarBangsa.co.id – Kopi asal Desa Cening, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kopi dari wilayah Sukorejo. Perbedaan kondisi tanah dan suhu udara diduga memengaruhi cita rasa hingga kandungan minyak pada biji kopi.
Petani kopi Desa Cening, Hartono, mengatakan tanah perkebunan di wilayahnya memiliki warna putih keabu-abuan, berbeda dengan sejumlah daerah penghasil kopi lain yang cenderung berwarna merah.
“Yang memengaruhi itu suhu udara dan tekstur tanahnya. Tanah di Cening ini berbeda dengan daerah lain. Kalau daerah lain tanahnya merah, di sini putih keabu-abuan. Itu juga berpengaruh terhadap hasil kopinya, termasuk kadar minyaknya,” ujar Hartono, Sabtu (7/11/2026).
Di Desa Cening, petani membudidayakan tiga jenis kopi, yakni robusta, arabika, dan kopi lanang. Keunikan kopi lokal tersebut bahkan telah menembus pasar internasional sejak sekitar 2009, dengan pemasaran ke lima negara, di antaranya Belanda, Prancis, Malaysia, dan Singapura.
Hartono menyebut pemasaran ke luar negeri awalnya berkembang melalui jaringan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kendal. Mereka memperkenalkan kopi Cening kepada rekan kerja hingga mendapat respons positif dan pesanan berkelanjutan.
Dari sisi harga, kopi roasting kemasan 250 gram dijual sekitar Rp 26 ribu. Sementara harga green bean yang sebelumnya mencapai Rp 70 ribu per kilogram kini turun mengikuti kondisi pasar.
Meski memiliki potensi pasar hingga mancanegara, petani masih menghadapi kendala produktivitas, terutama saat musim kemarau. “Sejumlah tanaman kopi mengalami kekeringan hingga mati akibat keterbatasan sumber air dan sulitnya pengairan,”kata Hartono.
Dengan karakteristik alam yang khas dan pasar yang telah menjangkau sejumlah negara, kopi Cening berpotensi menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kendal. Namun, dukungan sarana pengairan diperlukan agar produktivitas perkebunan tetap terjaga.
Penulis : Rbn
Editor : Arifin Zaenul


















Komentar