SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Lapangan sepakbola desa di Kabupaten Sidoarjo kini tak lagi sekadar ruang olahraga. Pemerintah daerah mulai mengubahnya menjadi motor penggerak ekonomi baru berbasis sport tourism dan digitalisasi desa.
Kebijakan ini muncul dari potensi besar yang selama ini belum tergarap optimal. Hampir seluruh desa di Sidoarjo memiliki lapangan dengan kondisi yang terus membaik—mulai dari rumput, pencahayaan, hingga pengelolaan yang semakin profesional.
Kepala Diskominfo Sidoarjo, Eri Sudewo, menegaskan bahwa penguatan branding menjadi kunci untuk mengangkat nilai ekonomi fasilitas desa tersebut. Menurutnya, lapangan desa bisa menjadi destinasi wisata olahraga yang menarik jika dikelola secara serius.
“Dengan branding yang kuat, lapangan sepakbola desa bisa menjadi destinasi unggulan. Ini bukan hanya soal olahraga, tapi juga ekonomi,” ujarnya, Rabu (29/4).
Sebagai langkah konkret, pemerintah mulai memperkuat infrastruktur digital hingga ke desa. Akses internet berkecepatan tinggi disiapkan, termasuk di area lapangan, untuk mendukung promosi dan aktivitas ekonomi berbasis digital.
Langkah ini dinilai strategis, terutama bagi generasi muda desa. Mereka didorong untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana produksi konten, promosi event, hingga membuka usaha berbasis online.
“Kalau internetnya kencang, anak muda bisa bikin konten, promosi, bahkan jualan. Ini peluang ekonomi baru yang harus dimanfaatkan,” kata Eri.
Dari sisi dampak publik, kebijakan ini berpotensi menciptakan efek ekonomi berantai. Setiap kegiatan pertandingan atau turnamen akan menggerakkan berbagai sektor, mulai dari UMKM, parkir, kuliner, hingga jasa penyewaan perlengkapan.
Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, Sullamul Hadi Nurmawan, menilai ekosistem ini sudah mulai terbentuk. Ia menyebut kualitas lapangan desa di Sidoarjo kini cukup kompetitif, bahkan menarik minat klub dari luar daerah.
“Ketika ada event, perputaran uang langsung terasa. Pedagang hidup, parkir jalan, ekonomi bergerak. Ini potensi nyata,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa infrastruktur saja tidak cukup. Tanpa agenda yang konsisten, potensi tersebut sulit berkembang maksimal. Karena itu, ia mendorong adanya kalender kompetisi rutin, mulai dari liga desa hingga turnamen regional.
“Lapangan bagus itu modal awal. Tapi yang menghidupkan adalah aktivitasnya. Harus ada event rutin agar ekonomi terus berputar,” jelasnya.
Selain itu, strategi promosi digital juga menjadi perhatian utama. Konten pertandingan, suasana stadion desa, hingga cerita komunitas lokal dinilai bisa menjadi daya tarik kuat jika dikemas secara kreatif dan konsisten.
Fenomena lapangan desa yang mulai dikenal luas melalui media sosial menjadi bukti bahwa pendekatan ini efektif. Bahkan, beberapa lokasi seperti Pandansari Bungurasih mulai dilirik sebagai destinasi olahraga alternatif.
Menurut Sullamul, peluang ini bisa membawa Sidoarjo menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan sport tourism berbasis desa. Apalagi, minat dari luar daerah menunjukkan daya saing yang mulai terbentuk.
“Ada yang datang karena lihat di media sosial. Mereka kaget kualitasnya. Ini peluang besar, tinggal kita konsisten,” ujarnya.
Pemerintah pun mendorong kolaborasi lintas pihak, mulai dari desa, komunitas sepakbola, hingga pelaku usaha lokal. Tujuannya memastikan program ini berjalan berkelanjutan dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Jika dikelola serius, lapangan sepakbola desa bukan hanya menjadi ruang olahraga, tetapi juga mesin ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga secara nyata.
“Ini bukan sekadar bola. Ini soal masa depan ekonomi desa,” pungkasnya.
Penulis : Tom
Editor : Zainul Arifin


















Komentar