DPD RI Lia Istifhama Dukung Kritik Menteri Bahlil soal Syarat TOEFL Lpdp

Senin, 9 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama menanggapi kritik Menteri Bahlil terkait syarat TOEFL program LPDP, Senin (9/3/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI Lia Istifhama menanggapi kritik Menteri Bahlil terkait syarat TOEFL program LPDP, Senin (9/3/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang menyoroti tingginya syarat nilai TOEFL dalam program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memantik respons dari berbagai kalangan. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Lia Istifhama menilai kritik tersebut perlu dijadikan bahan evaluasi serius dalam kebijakan beasiswa negara.

Politisi yang dikenal dengan tagline Cantik (Cerdas, Kreatif, dan Inovatif) itu menilai persyaratan skor TOEFL yang terlalu tinggi berpotensi menciptakan kesenjangan kesempatan bagi calon penerima beasiswa. Menurutnya, syarat tersebut dapat menyulitkan mahasiswa dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelatihan bahasa Inggris berkualitas.

“Apa yang dikatakan Pak Menteri Bahlil sangat benar. Jika TOEFL 800 secara logika adalah mereka yang selama menempuh studi di sekolah mampu secara ekonomi sehingga bisa meningkatkan kompetensi di lembaga kursus bahasa Inggris berbiaya mahal,” ujar Lia dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa realitas tersebut menunjukkan adanya ketimpangan akses dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Banyak mahasiswa berprestasi yang sebenarnya memiliki potensi akademik tinggi, namun tidak memiliki kesempatan mengikuti pelatihan bahasa secara intensif karena keterbatasan biaya.

“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswa memiliki akses yang sama terhadap lembaga kursus bahasa Inggris berkualitas. Padahal kemampuan akademik mereka belum tentu kalah dari mereka yang memiliki fasilitas lebih,” katanya.

Putri almarhum KH Masykur itu juga menyoroti bahwa syarat TOEFL yang tinggi secara tidak langsung mendorong orientasi beasiswa LPDP lebih banyak ke studi luar negeri. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang agar tidak mengesampingkan penguatan pendidikan tinggi di dalam negeri.

“Dengan syarat tersebut juga, sama saja mendorong kesempatan beasiswa LPDP di luar negeri, bukan di dalam negeri. Sedangkan alokasi uang negara triliunan rupiah seharusnya difokuskan untuk penguatan pendidikan dalam negeri, yaitu perguruan tinggi di Indonesia,” tegasnya.

Sebagai anggota DPD RI, Lia menilai penting adanya keseimbangan dalam pemanfaatan dana LPDP antara program studi luar negeri dan dalam negeri. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas yang layak mendapat dukungan pembiayaan riset dan pengembangan dari negara.

“Indonesia memiliki banyak kampus berkualitas yang sebenarnya mampu bersaing di tingkat global. Karena itu, dukungan pembiayaan pendidikan dari negara harus juga diarahkan untuk memperkuat perguruan tinggi nasional,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan pendidikan harus berorientasi pada pemerataan kesempatan bagi seluruh anak bangsa. Program LPDP, menurutnya, seharusnya tidak hanya menjadi jalan bagi segelintir mahasiswa yang memiliki akses sumber daya lebih baik.

“Minimal samalah persentase dengan alokasi studi luar negeri, jangan sampai justru sebaliknya. Dana pendidikan negara harus mampu memperkuat perguruan tinggi dalam negeri sekaligus memberi kesempatan yang adil bagi seluruh mahasiswa Indonesia,” tambah Lia.

Lia berharap pemerintah segera melakukan evaluasi terhadap skema dan persyaratan beasiswa LPDP agar program tersebut benar-benar menjadi instrumen pemerataan pendidikan. Ia menegaskan investasi negara pada sektor pendidikan harus mampu menjangkau lebih luas masyarakat dan mendorong kemajuan institusi pendidikan nasional secara berkelanjutan.

“LPDP harus menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, kebijakannya harus inklusif dan memberi ruang yang lebih besar bagi mahasiswa berprestasi dari berbagai latar belakang,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Cegah Abrasi, Jejak Bumi dan BP-GMN Tanam Mangrove di Pesisir Kendal
BSU 2026 Rp900 Ribu Dibayar Sekaligus, Ini Syarat Penerimanya
Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI
SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah
Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan
Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri
Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang
Kemnaker Fasilitasi 100 Pekerja Musik, Dorong Kompetensi dan Pelindungan Profesi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 22:00

Cegah Abrasi, Jejak Bumi dan BP-GMN Tanam Mangrove di Pesisir Kendal

Kamis, 5 November 2026 - 20:53

BSU 2026 Rp900 Ribu Dibayar Sekaligus, Ini Syarat Penerimanya

Kamis, 5 November 2026 - 10:47

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI

Rabu, 4 November 2026 - 18:30

SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah

Selasa, 3 November 2026 - 19:42

Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan

Berita Terbaru