MALANG, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan apresiasi kepada 100 seniman dan pelaku budaya, tunjangan kehormatan bagi 20 Juru Pelihara Cagar Budaya, serta 46 Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2025 di Taman Krida Budaya, Minggu (22/2) sore.
Penyerahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Takjil Ramadhan yang digelar 18 Februari hingga 17 Maret 2026, melibatkan 250 stan UMKM se-Malang Raya. Agenda ini mempertemukan dua kepentingan publik sekaligus: penguatan ekonomi kerakyatan dan pelestarian budaya daerah.
Khofifah menegaskan, Ramadhan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga ruang strategis untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkokoh identitas budaya Jawa Timur.
“Ekonomi rakyat harus terus bergerak dan budaya harus terus hidup. Keduanya fondasi penting dalam membangun Jawa Timur yang tangguh dan berdaya saing,” ujarnya di hadapan pelaku seni, kepala daerah, dan undangan.
Apresiasi diberikan kepada 100 perwakilan seniman dari berbagai cabang seni tradisi, antara lain topeng, tari, ludruk, bantengan, dan jaranan. Masing-masing menerima Rp1 juta sebagai bentuk dukungan moral dan stimulan ekonomi.
Selain itu, 20 Juru Pelihara Cagar Budaya menerima tunjangan kehormatan sebesar Rp1,5 juta. Mereka selama ini merawat masjid kuno, candi, dan situs bersejarah di berbagai daerah di Jawa Timur.
Pada kesempatan yang sama, Pemprov Jatim juga menerima dan menyerahkan 46 Sertifikat WBTB Indonesia Tahun 2025 dari pemerintah pusat kepada para bupati dan wali kota penerima.
Beberapa di antaranya Batik Ghentongan Tanjung Bumi (Bangkalan), Angklung Banyuwangi, Oklik Bojonegoro, Sego Boran Lamongan, Labuhan Sarangan Magetan, Bantengan Lereng Semeru Kabupaten Malang, Wayang Krucil Sriguwak Ngawi, hingga Lontong Balap Surabaya.
Khofifah menekankan, penetapan WBTB bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan amanah untuk menjaga keberlanjutan praktik budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Warisan budaya harus tumbuh dan memberi manfaat sosial maupun ekonomi. Budaya adalah identitas sekaligus kekuatan pembangunan daerah,” tegasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Evy Afianasari, menjelaskan sepanjang tahun ini Pemprov Jatim mengalokasikan apresiasi bagi total 640 orang, terdiri dari 500 pelaku budaya dan 100 Juru Pelihara Cagar Budaya. Pada acara di Malang, penyerahan dilakukan secara simbolis kepada 100 pelaku budaya dan 20 juru pelihara.
Menurut Evy, nilai apresiasi tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya sebagai bentuk keberpihakan terhadap para pegiat budaya yang konsisten menjaga khazanah lokal.
“Ini wujud perhatian Ibu Gubernur terhadap para pelaku budaya yang menjadi garda terdepan pelestarian tradisi di Jawa Timur,” ujarnya.
Festival Takjil Ramadhan sendiri dinilai memberi dampak ekonomi langsung bagi UMKM lokal, terutama sektor kuliner dan kriya. Dengan melibatkan 250 stan, perputaran ekonomi diharapkan meningkat selama satu bulan pelaksanaan.
Bagi Pemprov Jatim, integrasi antara event ekonomi dan agenda budaya menjadi strategi pembangunan berbasis identitas lokal. Pendekatan ini dinilai relevan di tengah tantangan globalisasi yang berpotensi menggerus tradisi.
Menutup sambutannya, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelaku budaya yang tetap konsisten menjaga warisan leluhur.
“Matur nuwun atas dedikasi panjenengan semua. Tanpa panjenengan, jati diri Jawa Timur tidak akan sekuat hari ini,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar