SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momentum menyoroti tantangan baru perempuan di era teknologi. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan perempuan harus mampu menguasai ruang digital agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penggerak perubahan.
Pesatnya transformasi digital telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, berbisnis, hingga menyampaikan aspirasi. Dalam situasi itu, perempuan dinilai perlu mengambil peran strategis agar tidak tertinggal dalam arus perubahan.
Hal tersebut disampaikan Lia Istifhama dalam dialog aspirasi bertema Kartini Digital: Menguasai Ruang Bukan Sekadar Bersuara yang digelar di Surabaya.
Menurut senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu, semangat perjuangan Kartini saat ini harus diterjemahkan ke dalam keberanian perempuan menempati posisi penting di berbagai sektor, mulai teknologi, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga kebijakan publik.
“Perempuan hari ini tidak cukup hanya aktif di media sosial. Lebih dari itu, perempuan harus menjadi penggerak, pembuat solusi, dan pengambil keputusan di ruang digital,” ujar Lia.
Ia menjelaskan, ruang digital kini membuka peluang luas bagi perempuan untuk membangun usaha, memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas diri, hingga memperjuangkan kepentingan masyarakat secara lebih efektif.
Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga dan ekonomi daerah. Ketika perempuan memiliki kemampuan digital, peluang usaha baru terbuka, pendapatan meningkat, dan akses terhadap pendidikan maupun informasi publik menjadi lebih mudah.
Namun, Lia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga membawa risiko. Perempuan perlu dibekali literasi digital agar tidak mudah terjebak hoaks, penipuan daring, kekerasan verbal, maupun eksploitasi di internet.
“Penguasaan teknologi harus dibarengi kecerdasan, etika, dan keberanian. Dengan begitu perempuan Indonesia bisa menjadi Kartini masa kini yang memberi dampak nyata,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah memperluas akses pendidikan dan pelatihan digital, khususnya bagi perempuan di daerah. Menurutnya, pemerataan kompetensi digital menjadi kunci agar manfaat transformasi teknologi dirasakan lebih luas.
Hari Kartini 2026, lanjut Lia, menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Tantangan saat ini bukan lagi sekadar akses pendidikan, melainkan memastikan perempuan mampu memimpin di era digital.
Lainnya:
- Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
- Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi
- Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








