SEMARANG, RadarBangsa.co.id — Ibadah perdana Efrata Men Ministry di Gereja GPDI Efrata Semarang berlangsung penuh semangat pada Jumat, 27 Maret 2026. Kegiatan yang digelar di Ruang Sinai 1 ini diikuti sekitar 50 pria, termasuk pendeta pembantu dan jajaran pengurus gereja.
Kegiatan tersebut menjadi momentum awal pembinaan karakter pria gereja melalui pendekatan rohani dan sosial yang dikemas interaktif.
Mengusung tema “Pria Efrata di Atas Rata-rata”, ibadah menghadirkan Pdt Handoyo Liem M.Pd.K sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menguraikan konsep jati diri pria Kristen melalui akronim “PRIA” yang menjadi panduan hidup.
Ia menjelaskan bahwa “P” berarti Pelindung, yakni peran pria dalam menjaga keluarga, gereja, dan lingkungan. “R” dimaknai Rajin, yang menekankan ketekunan dalam pekerjaan dan pelayanan. Sementara “I” adalah Imam, yang mencerminkan tanggung jawab spiritual, dan “A” berarti Asik, yaitu menjadi pribadi yang membawa sukacita dalam kehidupan sosial.
Kegiatan yang dikoordinatori oleh RuBowo dan tim ini juga diisi dengan ice breaker, permainan, hingga sesi fellowship. Suasana hangat dan interaktif tampak sepanjang acara, termasuk saat peserta mengikuti diskusi santai sambil menikmati kopi dan camilan.
“Pria Efrata harus memiliki kualitas hidup yang berbeda dan berdampak positif di tengah lingkungan,” ujar Pdt Handoyo Liem dalam sesi penyampaian materi.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan rohani dan sosial agar setiap pria mampu menjadi teladan.
Kegiatan ini dinilai penting dalam membangun peran pria sebagai pemimpin di keluarga dan masyarakat. Pembinaan berbasis komunitas seperti ini juga menjadi strategi gereja dalam memperkuat nilai karakter di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Selain itu, forum ini membuka ruang bagi pria untuk saling berbagi pengalaman dan mempererat solidaritas internal gereja.
Ibadah perdana ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk komitmen peserta untuk terus bertumbuh. “Ini bukan sekadar pertemuan, tetapi awal perubahan menuju pria yang hidup di atas rata-rata,” pungkasnya.
Penulis : Bandi
Editor : Zainul Arifin


















Komentar