SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pembangunan kualitas generasi Indonesia dinilai tidak bisa hanya bergantung pada sekolah formal. Peran keluarga, terutama ibu, menjadi faktor penentu dalam membangun budaya literasi sejak dini.
Hal itu disampaikan anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, dalam podcast peringatan Hari Kartini di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Rabu (29/4). Ia menegaskan, rumah adalah sekolah pertama dan ibu merupakan guru utama bagi anak.
“Ibu adalah pintu pertama pendidikan. Dari rumah, anak belajar berpikir, membaca, dan memahami dunia,” ujarnya.
Menurut Lia, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi proses membangun cara berpikir kritis dan karakter. Kedekatan emosional antara ibu dan anak menjadi fondasi penting agar proses belajar berjalan efektif.
“Ketika anak merasa nyaman, muncul kepercayaan. Dari situ tumbuh semangat belajar dan kebiasaan membaca,” katanya.
Ia menilai, tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya minat baca di tengah gempuran konten digital. Tanpa pendampingan keluarga, anak berisiko lebih banyak menjadi konsumen informasi pasif dibanding pembelajar aktif.
Karena itu, Lia mendorong langkah sederhana namun konsisten di rumah, seperti membiasakan membaca bersama, membacakan cerita, hingga membuka ruang diskusi keluarga.
“Budaya literasi tidak lahir instan. Harus dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus,” tegasnya.
Dari sisi dampak, penguatan literasi keluarga dinilai berpengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan, daya saing generasi muda, hingga ketahanan sosial masyarakat. Ini menjadi fondasi penting menuju target Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Tiat S. Suwardi, menegaskan bahwa keluarga adalah basis utama pembentukan budaya membaca.
“Ibu memiliki posisi sentral. Bahkan literasi bisa dikenalkan sejak anak dalam kandungan melalui stimulasi bahasa dan kebiasaan orang tua,” ujarnya.
Ia menambahkan, tingginya partisipasi perempuan di ruang literasi menjadi modal penting bagi pembangunan manusia. Pemerintah pun terus mendorong penyediaan ruang baca ramah keluarga.
Dengan penguatan literasi berbasis keluarga, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan global.
“Ibu adalah kunci. Dari rumah, masa depan bangsa ditentukan,” pungkas Lia.
Lainnya:
- Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
- Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi
- Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








