BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Pantai Blimbingsari di Banyuwangi bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata pesisir. Kawasan ini juga menjadi pusat kuliner laut yang mulai diburu wisatawan karena cita rasa ikan asap dan ikan bakarnya yang khas.
Di balik aroma asap yang menggoda itu, ada perjuangan puluhan tahun para pelaku UMKM lokal menjaga resep tradisional agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Mastia, salah satu pedagang senior di kawasan tersebut, mengaku telah menjual ikan asap sejak hampir lima dekade lalu. Hingga kini, ia masih mempertahankan cara memasak tradisional yang diwariskan turun-temurun warga Blimbingsari.
“Bumbu ini resep turun-temurun asli Blimbingsari. Bahannya asem, bawang merah, bawang putih, laos, kemiri, kencur, gula merah, gula putih, cabai besar dan kecil,” kata Mastia.
Menurutnya, proses pengolahan menjadi kunci utama rasa khas ikan bakar Blimbingsari. Ikan segar hasil tangkapan nelayan terlebih dahulu dibakar, kemudian dilumuri bumbu rempah sebelum kembali dipanggang agar rasa meresap sempurna.
Metode sederhana itu justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Banyak pengunjung awalnya hanya singgah usai menikmati pantai, namun akhirnya kembali lagi karena rasa ikan bakarnya dianggap berbeda dari daerah lain.
Tak hanya pembeli lokal, pesanan juga datang dari luar kota seperti Blitar, Yogyakarta hingga Sumatera. Pengiriman dilakukan melalui kereta api maupun bus antarkota.
“Kalau kirim luar kota bisa 50 sampai 150 tusuk sekali pesan. Ada yang lewat kereta, ada yang dititipkan bus. Alhamdulillah aman sampai tiga hari,” ujarnya.
Fenomena meningkatnya pesanan luar daerah menjadi sinyal bahwa wisata kuliner Banyuwangi masih memiliki daya tarik kuat. Di tengah tekanan ekonomi dan persaingan usaha makanan modern, UMKM tradisional justru menemukan pasar baru lewat cita rasa autentik.
Pedagang lain, Ulin (45), mengatakan terdapat sekitar 15 UMKM ikan bakar di Dusun Krajan, Desa Blimbingsari. Keberadaan wisata Pantai Blimbingsari disebut sangat membantu roda ekonomi warga.
“Wisatawan banyak yang pulang dari pantai mampir beli ikan bakar. Kalau sudah pernah ke sini biasanya balik lagi karena bumbunya khas,” kata Ulin.
Ia menyebut akhir pekan menjadi momentum paling ramai karena wisatawan meningkat drastis. Dampaknya langsung terasa pada pendapatan pelaku usaha kecil.
“Alhamdulillah sektor pariwisata ikut membantu UMKM. Kalau akhir pekan omzet bisa naik sampai Rp500 ribu bahkan lebih. Terakhir ada pesanan dari Surabaya itu bisa sampai 80 tusuk,” ujarnya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, juga ikut mencicipi kuliner khas tersebut saat program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Kecamatan Blimbingsari, Kamis (7/5/2026).
“Kuliner khas seperti ini menjadi kekuatan wisata Banyuwangi. Orang datang tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga mencari pengalaman kuliner autentik yang tidak ditemukan di daerah lain,” kata Ipuk.
Menurutnya, wisata kuliner pesisir memiliki dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat karena melibatkan nelayan, pedagang hingga pelaku UMKM lokal.
“Ini salah satu daya tarik wisata Banyuwangi. Rasanya khas karena bumbunya tradisional dan ikannya segar langsung dari nelayan. Kita ingin wisatawan yang datang ke Banyuwangi membawa pengalaman kuliner yang berkesan,” pungkasnya.
Lainnya:
- Haul Mbah Wahab Jadi Magnet Nasional, Gibran dan Kapolri Bersama Khofifah Datang ke Jombang
- Gibran, Khofifah dan Kapolri Hadiri Haul Mbah Wahab di Jombang
- Khofifah Dampingi Wakil Presiden RI Gibran di Haul Mbah Wahab di Jombang, Pesan Kebangsaan Menggema
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








