LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Kabupaten Lamongan menyatakan mitigasi kekeringan pada Musim Tanam (MT) II 2026 berhasil dilakukan. Hingga Agustus, ketersediaan air masih ditopang 44 waduk dan rawa dengan total volume tampungan mencapai 116.381.954 meter kubik.
Keberhasilan tersebut disampaikan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi saat menghadiri tasyakuran dan awarding di Gedung Graha Tirta Jaya Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Lamongan, Selasa (1/9/2026).
Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu mengapresiasi jajaran yang berkontribusi menjaga ketersediaan air, terutama dalam menghadapi ancaman kekeringan pada MT II.
“Alhamdulillah, kekeringan di Lamongan pada MT II bisa kita atasi dengan baik. Ini tentu berkat kerja bersama dan dukungan infrastruktur pengairan yang terus kita bangun,” tutur Pak Yes.
Menurut Yuhronur, infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan swasembada pangan Lamongan. Terlebih, sektor pertanian menyumbang lebih dari 30 persen terhadap PDRB Lamongan.
Data Dinas SDABK Lamongan mencatat ketersediaan air baku hingga Agustus mencapai 504.101,48 m³.
Sementara itu, 44 waduk dan rawa di Kabupaten Lamongan memiliki total volume tampungan 116.381.954 m³. Dari jumlah tersebut, sekitar 80,4 juta m³ atau 70 persen telah terpakai, sedangkan 35,9 juta m³ atau 30 persen masih tersedia.
Ketersediaan air tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan sejumlah sektor, terutama pertanian.
Areal tanaman yang menjadi sasaran pengelolaan air meliputi 19.059 hektare tanaman padi, yang terdiri dari 16.021 hektare pada MT II dan 3.038 hektare pada MT III. Selain itu, terdapat 5.314 hektare tanaman polowijo dan 185 hektare tambak.
Untuk kebutuhan air baku di wilayah Bengawan Jero, suplai diperoleh dari long storage Bengawan Solo. Berdasarkan kondisi ketersediaan air, kebutuhan irigasi pada seluruh Daerah Irigasi (DI) di Lamongan untuk tanaman padi, polowijo, dan tambak secara umum masih relatif mencukupi.
Meski mitigasi kekeringan MT II dinilai berhasil, Yuhronur meminta target kerja dipertajam. Ia menyoroti penanganan kekeringan di wilayah Sarirejo dan Tikung yang masih bersifat penyelesaian sementara.
Pemkab Lamongan akan terus memperkuat mitigasi melalui pembangunan dan revitalisasi infrastruktur sumber daya air. Upaya tersebut mencakup pembangunan embung, revitalisasi waduk, hingga pengembangan biopori sebagai bagian dari konservasi air.
Kepala Dinas SDABK Lamongan Erwin Sulistya Pambudi mengatakan pengelolaan sumber daya air menjadi bagian strategis untuk mendukung target pembangunan daerah, terutama penguatan ketahanan pangan.
Menurut Erwin, terdapat dua tantangan utama dalam pengelolaan sumber daya air, yakni bagaimana mengelola air saat musim hujan sekaligus memastikan ketersediaannya ketika musim kemarau.
Mitigasi dilakukan melalui koordinasi lintas sektor bersama BBWS Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta, dan PU SDA Provinsi. Langkah lainnya berupa pemeliharaan sluis di sepanjang Bengawan Solo, normalisasi sungai untuk mendukung long storage air baku irigasi, subsidi silang lintas daerah irigasi, serta pengelolaan distribusi air bersama juru pengamat dan P3A.
Dalam kegiatan tersebut, UPTD PSDA Karanggeneng juga memperkenalkan inovasi SMART. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam pengelolaan air dan infrastruktur.
Melalui fitur pengaduan, masyarakat dapat melaporkan kerusakan maupun bencana, menyampaikan usulan rehabilitasi sungai dan waduk, serta mengakses pelayanan perizinan baru maupun perpanjangan.
Kegiatan ditutup dengan pemberian penghargaan sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja dan inovasi jajaran Dinas SDABK Lamongan. Sebanyak 12 piagam penghargaan insinyur diberikan kepada kepala dinas, kepala bidang, kepala seksi, hingga staf.
Sementara penghargaan Best Innovation diberikan kepada UPTD PSDA Karanggeneng atas inovasi SMART.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar