SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya membangun generasi Qurani yang memiliki karakter kuat, akhlak mulia, dan budaya literasi yang baik sebagai modal utama meningkatkan daya saing bangsa di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Menurut Khofifah, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Gebyar Prestasi Al-Qur’an dan Wisuda Tartil Tahfidz Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama Khadijah Surabaya di Gedung ICBC Surabaya, Minggu (14/6).
“Perubahan zaman bergerak begitu cepat dan menghadirkan berbagai tantangan baru. Dalam situasi seperti ini kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat, integritas, dan fondasi moral yang kokoh. Karena itulah pendidikan Al-Qur’an menjadi sangat penting sebagai bekal menghadapi masa depan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual dan penguasaan ilmu pengetahuan. Keseimbangan antara kemampuan akademik dengan kekuatan moral dan spiritual menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi unggul.
“Karena daya saing tanpa karakter akan kehilangan arah, sedangkan kemajuan tanpa moralitas akan kehilangan makna,” tegasnya.
## Diikuti 866 Peserta dari Berbagai Jenjang Pendidikan
Khofifah mengatakan semangat tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Gebyar Prestasi Al-Qur’an dan Wisuda Tartil Tahfidz Yayasan Khadijah Surabaya yang diikuti 866 peserta dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, Pondok Pesantren Khadijah hingga Unit Sosial Khadijah.
Ia menilai kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen Yayasan Khadijah dalam membangun ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan akhlakul karimah dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Dalam kesempatan itu, Khofifah menyerahkan penghargaan beserta uang pembinaan kepada para siswa berprestasi pada berbagai kategori. Penghargaan diberikan mulai dari kategori Tartil Al-Qur’an Terbaik, Tahfidz Al-Qur’an Terbaik, capaian hafalan 6 hingga 30 juz, Lulus Munaqasyah Standar Asatidz dan Sanad PIQ, sampai Tahfidz 30 Juz Al-Qur’an.
Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus, ustaz, dan ustazah Yayasan Khadijah yang selama ini konsisten membimbing peserta didik dalam memahami serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Terima kasih kepada para pengurus, ustadz dan ustadzah Yayasan Khadijah yang telah membimbing anak-anak kita. Mudah-mudahan hatinya Al-Qur’an, pikirannya Al-Qur’an, dan gerakannya digerakkan oleh Al-Qur’an. Semoga seluruh ilmu yang diajarkan menjadi ilmu yang manfaat dan barokah,” katanya.
Secara khusus, Khofifah berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar tidak berhenti pada capaian menghafal Al-Qur’an semata. Ia menekankan pentingnya menjaga hafalan dan mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesan saya, tolong dijaga Al-Qur’annya. Menjaga hafalan tentu bukan hal yang sederhana. Oleh karena itu, kelompok para penghafal Al-Qur’an menjadi bagian penting agar hafalannya tetap terjaga. Baik yang hafal 6 juz, 7 juz, 9 juz, 12 juz, 16 juz maupun 30 juz, semuanya sama-sama perlu menjaga hafalannya,” tuturnya.
Selain itu, Khofifah mengajak generasi muda untuk memperkuat budaya literasi. Menurutnya, pesan mengenai pentingnya literasi telah diajarkan melalui wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Iqra’.
“Ayat pertama yang turun adalah Iqra’, yang mengintroduksi pentingnya literasi. Literasi itu tidak sekadar membaca, tetapi juga mencerdaskan dan melakukan pengayaan. Ini menjadi bagian penting untuk menerjemahkan lebih luas bagaimana ayat pertama yang turun, Iqra’, sesungguhnya mengajarkan pentingnya literasi,” katanya.
Khofifah menilai generasi yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an dan budaya literasi yang kuat akan lebih siap menghadapi perubahan serta mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, melainkan dari kemampuan lulusan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Mereka adalah calon pemimpin masa depan, calon akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, ulama maupun tokoh masyarakat yang akan ikut menentukan arah perjalanan bangsa,” katanya.
Khofifah menegaskan pembangunan karakter generasi muda membutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, organisasi keagamaan, masyarakat, dan pemerintah.
“Semoga setiap ayat yang dibaca, setiap huruf yang dihafal, setiap ilmu yang diajarkan, dan setiap ikhtiar yang dilakukan hari ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar