TARAKAN, RadarBangsa.co.id – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak kader Muslimat NU memperkuat peran perempuan dalam membina generasi bangsa sekaligus ikut menggaungkan perdamaian dunia.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri peringatan Maulidurrasul dan Harlah ke-80 Muslimat NU Pengurus Wilayah Kalimantan Utara di Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (8/9). Kegiatan itu turut dihadiri Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang serta ratusan warga Muslimat NU se-Kalimantan Utara.
Acara diawali dengan lantunan Shalawat Nabi. Dalam kesempatan tersebut, Khofifah mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
“Hari ini kita peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua mendapat syafaat Rasulullah SAW. Saya ingin mengajak panjenengan semua, kita hadir di sini selain memperingati Harlah Muslimat tapi juga Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Khofifah menempatkan perempuan, khususnya ibu, sebagai salah satu elemen penting dalam pembentukan karakter generasi. Menurutnya, keluarga menjadi ruang awal untuk menanamkan nilai agama, akhlak, karakter, serta kecintaan terhadap sesama.
Ia menyebut Muslimat NU memiliki posisi strategis sebagai madrasah ula atau sekolah pertama bagi anak-anak. Peran tersebut dinilai penting untuk mendidik dan membimbing putra-putri bangsa, termasuk generasi muda di Kalimantan Utara.
“Setiap pengajian, saya yakin semua orang tua berdoa mendoakan anaknya mempunyai akhlakul karimah, menjadi anak yang solih, solihah. Saya berharap yang Ibu lantunkan, Mars Muslimat NU, kita semua bisa mendidik dan membina putra-putri bangsa,” tuturnya.
Khofifah juga mengajak para kader Muslimat NU memperkuat doa bagi keluarga. Ia mengingatkan pentingnya memohon kepada Allah agar anak dan keturunan menjadi qurrata a’yun atau penyejuk mata.
“Tidak lupa ya Bu. Mohon kepada Allah, supaya kita ketemu keluarga, ketemu anak kita qurrata a’yun (penyejuk mata). Mohon kepada Allah setelah shalat, bersama tambahkan doa tersebut,” pesannya.
Menurut Khofifah, doa menjadi salah satu kekuatan masyarakat Indonesia. Ia menilai keberhasilan seseorang tidak hanya lahir dari usaha pribadi, tetapi juga tidak terlepas dari doa.
“Dari berbagai survey warga negara yang paling rajin berdoa itu adalah warga Indonesia. Kita menyadari bahwa sukses itu bukan keberhasilan pribadi, tapi berkat adanya wasilah doa,” katanya.
Dari lingkungan keluarga, Khofifah kemudian memperluas pesan Muslimat NU pada persoalan perdamaian dunia. Ia menegaskan bahwa terciptanya perdamaian bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau negara, melainkan membutuhkan ikhtiar bersama seluruh elemen masyarakat.
“Yang kita harapkan ada perdamaian di dunia, diwujudkan bersama oleh warga dunia. Maka selalu ada seruan Muslimat NU kepada PBB supaya negara di dunia membangun suasana sejuk dan damai,” ujar Khofifah.
Penguatan peran Muslimat NU, kata Khofifah, juga diwujudkan melalui program paralegal. Ia menyampaikan lebih dari 2.600 paralegal Muslimat NU telah mengikuti proses pendidikan dan diwisuda.
“Oleh karenanya Muslimat NU memiliki paralegal. Jadi ada lebih 2.600 yang sudah diwisuda. Mereka melalui proses dan sertifikat sudah internasional,” terangnya.
Khofifah juga menyoroti kiprah Muslimat NU dalam bidang keilmuan. Ia menyebut terdapat 206 profesor yang tergabung dalam Muslimat NU dan berharap jumlah tersebut terus berkembang.
“Muslimat ini memiliki 206 profesor Muslimat NU dan Insya Allah terus berkembang. Satu-satunya asosiasi pergerakan wanita terbesar yang punya asosiasi profesor perempuan,” ungkapnya.
Menurut Khofifah, keberadaan ulama perempuan dan para profesor Muslimat NU menjadi bagian dari kontribusi perempuan Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban.
“Kita sampaikan pada dunia, Indonesia punya banyak ulama perempuan, ilmunya luar biasa, berperan membangun peradaban. Pola inilah yang kita kembangkan di Muslimat NU,” tegasnya.
Khofifah berharap seluruh kiprah Muslimat NU terus diarahkan pada kebermanfaatan bagi masyarakat. Organisasi perempuan tersebut, menurutnya, harus mampu menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi umat dan bangsa.
“Kita ikhtiarkan supaya Muslimat ini insya Allah anfa’, dalam artian anfauhum linnas, bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengapresiasi perjalanan delapan dekade Muslimat NU. Ia menilai usia 80 tahun menunjukkan panjangnya pengabdian organisasi tersebut kepada masyarakat.
“Delapan Dekade bukanlah perjalanan yang singkat, ini adalah perjalanan panjang dan pengabdian yang harus terus diapresisasi,” kata Zainal.
Zainal berharap peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU dapat menjadi momentum memperkuat iman, akhlak, dan semangat pengabdian, sekaligus meneladani Rasulullah SAW.
“Hari ini menjadi momentum penguat iman, akhlak dan semangat pengabdian serta mengikuti keteladanan Rasulullah. Harlah Muslimat menjadi pengingat bagaimana perempuan sebagai madrasah ula bagi anak-anak, menjadi garda terdepan dalam mendidik generasi muda di Kalimantan Utara,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar