BATU, RadarBangsa.co.id – Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh daiyah Muslimat NU Jawa Timur mempercepat transformasi metode dakwah dari pola konvensional menuju dakwah digital. Langkah tersebut dinilai penting agar nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dapat menjangkau masyarakat lebih luas di tengah perubahan pola konsumsi informasi yang semakin bergeser ke ruang digital.
Ajakan itu disampaikan Khofifah saat menjadi keynote speaker dalam Silaturahim Himpunan Da’iyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) serta Ikatan Haji Muslimat (IHM) NU Jawa Timur bertema “Muslimat NU Berhijrah Menuju Dakwah Digital untuk Peradaban” di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu, Sabtu (11/7).
Menurut Khofifah, forum tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan para daiyah, penggerak majelis taklim, dan kader Muslimat NU yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.
“Ini pertemuan antara daiyah, himpunan daiyah dan majelis taklim Muslimat NU. Kekuatan Muslimat itu ada di sosial keagamaan, khususnya majelis taklim. Para bu nyai selalu ingin ada *update* materi dan metode dakwahnya,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan, perubahan metode dakwah bukanlah gagasan baru. Transformasi tersebut telah mulai dijalankan secara nasional sejak masa pandemi Covid-19 ketika aktivitas masyarakat banyak beralih ke platform digital.
Perubahan perilaku masyarakat dalam belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi membuat dakwah tidak lagi cukup dilakukan melalui mimbar fisik. Menurutnya, ruang digital kini menjadi media yang harus dimanfaatkan agar pesan-pesan keagamaan dapat diakses lebih luas.
“Sekarang kesadaran ini cukup kuat. Mereka ingin melakukan transformasi dari dakwah secara konvensional dari mimbar fisik ke mimbar digital hingga media sosial,” ujarnya.
Khofifah menilai perkembangan teknologi telah menghapus batas ruang dan waktu dalam penyebaran informasi. Karena itu, dakwah digital membuka peluang besar bagi Muslimat NU untuk menjangkau masyarakat kapan pun dan di mana pun.
“Kalau dakwah secara digital itu diimplementasikan, maka sudah pasti bisa diakses setiap saat, anytime anywhere. Di Indonesia sekitar 250 juta orang bisa mengakses dakwah kita jika dilakukan secara digital. Kalau global, lebih dari enam miliar orang. Ini bisa mendunia dan meluaskan jejaring,” jelasnya.
Ia juga mengutip berbagai hasil studi yang menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap konten keagamaan di media sosial. Menurutnya, lebih dari 60 persen pengguna media sosial mencari referensi keagamaan melalui berbagai platform digital.
Kondisi tersebut, kata Khofifah, menjadi peluang besar bagi Muslimat NU untuk menghadirkan konten yang moderat, menyejukkan, sekaligus mencerahkan masyarakat.
“Kalau ruang digital diisi oleh konten yang menyejukkan, moderat, dan mencerahkan, maka dakwah Ahlussunnah wal Jamaah akan semakin luas manfaatnya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi. Pengalaman para kader senior, menurutnya, perlu dipadukan dengan kreativitas generasi muda agar materi dakwah lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan, terutama Generasi Z.
Ia mengingatkan bahwa penyusunan konten digital harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Tema, bahasa, hingga format penyampaian perlu mengikuti kebiasaan audiens agar pesan yang disampaikan lebih efektif.
“Betapa pentingnya dakwah itu bisa tepat sasaran. Kalau viewers-nya menyasar Gen Z, maka temanya harus banyak menyentuh kebutuhan Gen Z. Format seperti kartun, penggunaan backsound, itu juga penting,” katanya.
Khofifah mencontohkan materi dakwah yang mengangkat persoalan sehari-hari generasi muda akan lebih mudah diterima apabila dikemas secara ringan namun tetap mengandung pesan moral yang kuat.
“Misalnya konten jangan cepat galau, karena esok tetap ada harapan, ada new hope. Ada pesan yang tersirat dengan bahasa yang bisa dipahami Gen Z sehingga mereka menyukai kontennya,” jelasnya.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Khofifah mengajak seluruh kader Muslimat NU meningkatkan kemampuan literasi digital. Ia menegaskan organisasi tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi harus mampu menjadi produsen konten yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Muslimat NU tidak boleh hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi produsen narasi kebaikan yang menyejukkan dan mencerdaskan masyarakat,” tegasnya.
Sebagai arah pengembangan dakwah digital, Khofifah menawarkan empat pilar utama yang dapat dijalankan Muslimat NU. Pilar tersebut meliputi penguatan literasi digital, produksi konten positif, pengembangan UMKM digital sebagai penguatan ekonomi umat, serta pembangunan parenting digital untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif ruang siber.
Menurutnya, Muslimat NU memiliki modal organisasi yang sangat besar untuk menjalankan transformasi tersebut. Selain memiliki jutaan anggota, organisasi juga didukung jaringan majelis taklim, lembaga pendidikan, PAUD, koperasi, UMKM, hingga kader yang tersebar sampai tingkat desa.
“Maka jika seluruh potensi ini terhubung secara digital, Muslimat NU akan menjadi kekuatan dakwah terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Khofifah juga memaparkan sejumlah program yang telah dikembangkan Muslimat NU, antara lain Paralegal, Akademi Pendidikan Muslimat NU (APMNU), Pesantren Ramadan Balita, Mustika, hingga Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H). Berbagai program tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk memperluas manfaat organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital.
Sementara itu, Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, mengatakan kegiatan Silaturahim HIDMAT dan IHM NU Jawa Timur menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan langkah seluruh kader dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital.
Menurut Masruroh, seluruh kader Muslimat NU merupakan bagian dari perjuangan Nahdlatul Ulama yang mengabdikan diri melalui khidmah kepada umat sesuai perkembangan zaman.
“Panjenengan semua adalah orang yang berperan dalam perjuangan Nahdlatul Ulama. Kita ini berjihad fi sabilillah, berkomitmen berjihad di jalan Allah. Ini adalah khidmah yang sesuai dengan zamannya,” ujarnya.
Masruroh menegaskan dakwah yang selama ini dilakukan secara konvensional perlu diperkuat melalui berbagai platform digital agar ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Dakwah kita mesti berhijrah. Dakwah konvensional sampai hari ini harus berhijrah menjadi dakwah digital, untuk menjadi dakwah yang bisa didengar, dibaca, dan disenangi masyarakat,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar