SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta aparatur sipil negara (ASN) memastikan proyek perubahan yang dirancang selama pelatihan kepemimpinan tidak berhenti sebagai tugas pendidikan dan pelatihan. Inovasi tersebut harus dilanjutkan melalui kolaborasi dan disesuaikan dengan dinamika kebutuhan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Khofifah saat menutup Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XI serta Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan V dan VI Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Kampus BPSDM Jawa Timur, Surabaya, Jumat (2/10).
Menurut Khofifah, keberhasilan pelatihan kepemimpinan tidak hanya diukur dari selesainya proses pembelajaran. Pengetahuan yang diperoleh peserta perlu diterapkan untuk memperbaiki kualitas kerja dan pelayanan publik.
“Pelatihan ini memang kita tutup hari ini, tapi berikutnya perlu ada kerja-kerja sinergi, kerja-kerja kolaboratif. Apalagi yang terkait dengan berbagai proyek perubahan yang sudah disiapkan. Proyek-proyek perubahan itu tidak akan mungkin bisa dilakukan sendirian. Proyek perubahan butuh sinergi,” ujar Khofifah.
Ia menilai tantangan dalam menjalankan inovasi pemerintahan tidak selalu dapat diselesaikan oleh satu individu maupun satu instansi. Karena itu, jejaring kerja sama diperlukan agar gagasan yang lahir dari pelatihan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan kerja masing-masing.
Khofifah juga mengingatkan ASN untuk terus beradaptasi menghadapi perubahan di tingkat lokal, regional, nasional hingga global. Menurutnya, inovasi harus tetap memiliki ruang untuk dikembangkan dan disesuaikan ketika kondisi berubah.
“Proyek perubahan tetap butuh inovasi dan kreativitas yang luar biasa. Ada ruang di mana adaptasi kita dibutuhkan. Maka sebetulnya equilibrium dynamic. Dinamika-dinamika di mana kita harus bangun keseimbangan-keseimbangan baru,” katanya.
Ia menambahkan, pertukaran pengetahuan dapat dilakukan melalui komunikasi langsung maupun daring. Dengan pola tersebut, inovasi yang telah diterapkan di suatu daerah dapat dipelajari dan dikembangkan di wilayah lain dengan menyesuaikan kebutuhan serta kondisi setempat.
Khofifah juga menekankan pentingnya sinergi lintas elemen dalam membangun pemerintahan yang mampu merespons perubahan. Ia berharap peserta tidak menjadikan proyek perubahan sekadar bagian dari pemenuhan persyaratan pelatihan, tetapi mengembangkannya menjadi bagian dari pekerjaan setelah kembali ke instansi masing-masing.
“Terakhir, selamat kepada semua dengan prestasi yang luar biasa. Mudah-mudahan semua pelatihan dan proyek yang dikerjakan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan sekitar dan masyarakat luas,” pungkasnya.
Pesan serupa disampaikan Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN Lembaga Administrasi Negara RI Tri Widodo Wahyu Utomo. Ia mengatakan selesainya pelatihan bukan menjadi akhir proses pembelajaran bagi peserta.
Menurut Tri Widodo, tempat kerja menjadi ruang penting untuk membuktikan kemampuan kepemimpinan sekaligus menguji sejauh mana pembelajaran selama pelatihan dapat diterapkan.
“BPSDM atau lembaga pelatihan apapun bukan menjadi satu jawaban untuk semua masalah di bangsa kita. Justru yang harus kita jadikan sebagai Kawah Candradimuka itu adalah tempat kerja Bapak Ibu sekalian. PKN II hanya 107 hari saja,” katanya.
PKN Tingkat II Angkatan XI diikuti 52 peserta dari berbagai instansi dan daerah. Delapan peserta berasal dari tingkat pemerintah provinsi, terdiri atas tiga orang dari Jawa Timur dan lima orang dari Papua Barat.
Sebanyak 24 peserta lainnya berasal dari pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur, sementara 20 peserta berasal dari pemerintah kabupaten/kota di luar Jawa Timur. Peserta tersebut antara lain mewakili Kota Kupang, Pontianak, Batam, Kabupaten Nagekeo, Sumba Barat Daya, Fakfak, Sukamara, dan Halmahera Selatan.
Adapun PKP Angkatan V dan VI diikuti total 85 peserta dari 15 unit kerja atau instansi. Pesertanya berasal dari perangkat daerah tingkat provinsi, kejaksaan, kementerian/lembaga, hingga pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur.
Dalam penutupan tersebut, Khofifah menyerahkan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) serta menyematkan pin Pemimpin Perubahan kepada 52 peserta PKN Tingkat II Angkatan XI. Lima peserta dengan peringkat terbaik juga menerima piagam penghargaan dan medali.
Penghargaan diberikan pula kepada 10 peserta terbaik PKP Angkatan V dan VI, masing-masing lima orang dari setiap angkatan. Panitia turut memberikan penghargaan untuk kategori video terinovatif dan banner terbaik.
Rangkaian kegiatan juga diisi penyerahan bantuan kemanusiaan dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur HM Arum Sabil menyerahkan bantuan melalui program Bumbung Kemanusiaan senilai Rp217 juta kepada Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo Imanuel Ndun. Bantuan senilai Rp250 juta juga diserahkan kepada Pengurus Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Sikka Joy Johakim Brejon untuk disalurkan kepada masyarakat di Kabupaten Sikka.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Tri Widodo Wahyu Utomo dan Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur Ramliyanto.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar