JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali membawa provinsinya mencetak prestasi nasional. Jawa Timur diganjar penghargaan Outstanding Province in Supporting Koperasi Desa Merah Putih Program dalam ajang National Governance Awards 2026.
Penghargaan ini bukan sekadar simbol. Pemerintah pusat menilai program koperasi desa di Jawa Timur terbukti memperkuat ekonomi warga dari level paling bawah, yakni desa dan kelurahan yang selama ini menjadi titik rawan ketimpangan.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di The Ritz-Carlton Jakarta, Jumat (24/4). Momen ini sekaligus menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu daerah dengan tata kelola ekonomi kerakyatan terbaik di Indonesia.
Khofifah menegaskan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif lintas pemerintahan. Ia menyebut keberhasilan ini lahir dari konsistensi membangun koperasi sebagai tulang punggung ekonomi desa.
“Kami tidak bekerja untuk mengejar penghargaan. Tapi bersyukur kerja nyata di Jawa Timur mendapat pengakuan,” ujar Khofifah.
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dinilai berhasil menjawab kebutuhan riil masyarakat. Tidak hanya sebagai lembaga simpan pinjam, koperasi kini berkembang menjadi pusat layanan ekonomi dan sosial warga.
Di lapangan, koperasi hadir melalui berbagai unit usaha. Mulai dari gerai sembako, klinik desa, apotek, hingga distribusi logistik serta kebutuhan pokok seperti LPG 3 kg dan pupuk bersubsidi.
Data Dinas Koperasi Jawa Timur mencatat telah terbentuk 1.292 gerai usaha koperasi. Rinciannya meliputi 711 gerai sembako, 42 klinik desa, 52 apotek, 76 layanan logistik, 154 unit simpan pinjam, dan 257 usaha lainnya.
Keberadaan gerai tersebut berdampak langsung pada masyarakat. Harga kebutuhan pokok menjadi lebih terjangkau, akses layanan kesehatan lebih dekat, dan distribusi barang lebih merata hingga pelosok desa.
“Ini bukan sekadar program, tapi solusi nyata yang dirasakan warga setiap hari,” tegas Khofifah.
Capaian penting lainnya adalah jangkauan program. Hingga saat ini, KDKMP telah terbentuk di 8.494 titik atau mencakup 100 persen desa dan kelurahan di Jawa Timur.
Hal ini menjadi krusial karena selama ini kesenjangan antara desa dan kota menjadi persoalan klasik. Dengan koperasi aktif, aktivitas ekonomi tidak lagi terpusat di perkotaan.
Distribusi barang menjadi lebih efisien, rantai pasok lebih pendek, dan pelaku usaha desa mendapatkan akses pasar yang lebih luas.
“Kita ingin desa menjadi pusat pertumbuhan baru, bukan hanya objek pembangunan,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemprov Jawa Timur juga fokus pada penguatan kelembagaan koperasi. Tahun 2025, sebanyak 1.660 koperasi difasilitasi memiliki badan hukum resmi.
Lebih dari 16 ribu pengurus dan pendamping koperasi juga telah mendapatkan pelatihan. Materinya mencakup manajemen usaha, laporan keuangan, hingga optimalisasi Rapat Anggota Tahunan.
Langkah ini penting agar koperasi tidak hanya tumbuh secara jumlah, tetapi juga kuat secara tata kelola dan profesional.
Khofifah menegaskan kehadiran koperasi desa bukan untuk mematikan usaha yang sudah ada. Sebaliknya, koperasi justru menjadi mitra strategis bagi pelaku UMKM lokal.
Koperasi berfungsi memperluas akses distribusi, memperkuat jaringan usaha, serta membantu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
“Jangan saling mematikan. Koperasi harus menjadi penguat ekosistem ekonomi desa,” jelasnya.
Selain penguatan koperasi, Pemprov Jawa Timur juga mendorong hilirisasi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Sektor yang disasar meliputi pertanian, hortikultura, hingga peternakan. Dengan hilirisasi, produk tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Langkah ini diyakini mampu meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha desa sekaligus memperkuat struktur ekonomi daerah.
“Hilirisasi adalah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Khofifah.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga dorongan bagi daerah lain untuk terus berinovasi.
Menurutnya, kompetisi sehat antar daerah diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
“Penghargaan ini diharapkan memacu kepala daerah untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi terbaik,” ujarnya.
Bagi masyarakat, program ini menghadirkan manfaat nyata. Mulai dari harga kebutuhan pokok yang lebih stabil, akses layanan kesehatan yang lebih dekat, hingga peluang usaha yang semakin terbuka.
Koperasi desa kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis komunitas yang modern dan inklusif.
Dengan model ini, Jawa Timur menunjukkan bahwa pembangunan dari desa bukan sekadar wacana, tetapi strategi nyata yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Lainnya:
- Tak Ada Demo Ricuh, May Day Jember 2026 Berubah Jadi Panggung Harmoni Buruh dan Pengusaha
- Negara Turun ke Laut, Ratifikasi ILO 188 Jadi Tameng Baru Buruh Perikanan dari Eksploitasi
- Hari Kebebasan Pers Sedunia, SMSI Tegaskan Hak Dirikan Media Dijamin Konstitusi
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








