Kisah Mbah Joko Lekik: Dari Sopir hingga Sukses Bangun Usaha

Senin, 10 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Kesuksesan Mbah Joko Lekik tidak lahir dari jalan yang mudah. Jaka Prasaja, S.H., yang akrab disapa Mbah Joko Lekik, membangun kehidupannya melalui perjalanan panjang, mulai dari bekerja sebagai sopir hingga mengembangkan usaha perdagangan yang kemudian berkembang ke sejumlah bidang usaha.

Lahir di Klaten pada 1968, Mbah Jo menempuh pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas 17 Agustus Semarang. Meski memiliki latar belakang pendidikan tinggi, ia tidak ragu memulai kehidupan dari pekerjaan sederhana.

Sekitar 1995–1999, Mbah Jo bekerja sebagai sopir di tempat saudaranya di Batur, Klaten, sebuah pabrik pengecoran logam. Pekerjaan itu dijalaninya dengan penuh tanggung jawab dan tanpa menganggap rendah profesi yang dijalankannya.

Baginya, pekerjaan yang dilakukan secara jujur dan sungguh-sungguh merupakan sebuah kehormatan. Prinsip tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan ketika ia mengambil keputusan untuk membangun usaha sendiri.

Pada Oktober 1999, Mbah Jo mulai berdagang dengan meneruskan jejak para leluhurnya. Ia mengawali usaha dengan berjualan lombok di Pasar Johar Semarang dengan segala keterbatasan yang ada.

Dalam merintis usaha tersebut, Mbah Jo mendapat dukungan dari saudara, adik, dan kakak kandungnya. Perjalanan itu dijalani tanpa jalan pintas, melainkan melalui kerja keras, pengorbanan, doa, dan keberanian untuk terus melangkah.

Usaha perdagangan hasil bumi yang dirintis dari bawah kemudian berkembang. Mbah Jo mulai membangun ruko, menjalankan jual beli mobil, mengembangkan properti, serta memiliki beberapa rumah kos yang dikelola bersama anak, istri, dan saudaranya.

Perkembangan usaha tersebut tidak membuat Mbah Jo memandang keberhasilan hanya dari sisi materi. Ia justru menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari tujuan perjuangannya sejak awal.

“Suksesku bukan untuk diriku sendiri. Aku akan berusaha bagaimana caranya supaya saudara-saudaraku bisa bersama-sama sukses dan hidup layak, lepas dari kemiskinan yang selama ini kami rasakan,” kata Mbah Jo.

Prinsip tersebut kemudian diwujudkan dengan membuka kesempatan bagi saudara-saudaranya untuk mengikuti jejaknya sebagai pedagang hasil bumi. Baginya, keberhasilan akan terasa lebih berarti ketika dapat dirasakan bersama keluarga besar.

Perjalanan dari seorang sopir hingga membangun usaha perdagangan menjadi bagian penting dari kisah hidup Mbah Jo. Setiap tahap dijalani dengan ketekunan, mulai dari pekerjaan sebagai sopir, berjualan lombok di Pasar Johar, hingga mengembangkan usaha yang dimilikinya.

Kini, di usia senjanya, Mbah Jo melihat kembali perjalanan yang telah dilalui. Kesulitan, kerja keras, dan doa yang menyertai perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses hingga ia mampu melihat keluarga hidup lebih layak.

“Saya bersyukur kepada Allah SWT, karena doa saya telah dijawab. Di hari tua saya, saya bisa melihat istri, anak, dan keluarga besar saya hidup layak dan bahagia. Bagi saya, keluarga adalah di atas segalanya,” ujarnya.

Bagi Mbah Jo, pencapaian membangun usaha bukan sekadar tentang kekayaan. Ada kebahagiaan ketika usaha yang dirintis dapat membuka jalan bagi keluarga untuk tumbuh dan hidup lebih baik.

Pandangan tersebut terangkum dalam prinsip yang ia pegang, “Awaké déwé kabeh sedulur.” Kalimat itu menjadi pengingat tentang pentingnya kebersamaan, kerukunan, saling menghormati, dan saling menjaga dalam perjalanan hidup.

“Awaké déwé kabeh sedulur, nyawiji siji ing guyub lan rukun, tansah ngajeni lan ngopeni. Gugur gunung kanggo njaga pakarti,” ungkapnya.

Perjalanan Mbah Joko Lekik menunjukkan bahwa membangun usaha dapat dimulai dari langkah sederhana. Dari pekerjaan sebagai sopir dan berdagang lombok, ia terus mengembangkan usaha perdagangan hingga mampu membangun sejumlah bidang usaha.

Perjuangan tersebut juga memperlihatkan bagaimana keberhasilan yang diraih tidak hanya ditempatkan sebagai pencapaian pribadi. Bagi Mbah Jo, kesuksesan memiliki makna ketika keluarga besar dapat ikut merasakan kehidupan yang lebih layak dan bahagia.

Kisah itu menjadi pesan yang terus ia pegang: tidak perlu malu memulai dari bawah, karena setiap pekerjaan yang dijalankan dengan jujur, tekun, dan penuh tanggung jawab dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.

Penulis : Oki

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Mabes TNI Gencarkan Pencegahan Karhutla di Pelalawan, Kearifan Lokal Jadi Kekuatan
Polsek Laren Atur Lalu Lintas Pagi di Jalur Sekolah, Cegah Macet dan Kecelakaan di Lamongan
Bhabinkamtibmas Pelangwot Cek Bibit Cabai, Dukung Ketahanan Pangan di Lamongan
Suporter Persekabpas Pasuruan Siap Jaga Ketertiban Jelang Liga 3 Jawa Timur
Belum Ada Kehamilan dari Program IVF, RSUD H. Moh. Ruslan Evaluasi Kasus Pasien
Polsek Tikung Pantau Panen Biji Kangkung, Dorong Warga Lamongan Perkuat Ketahanan Pangan
Di Hadapan Ribuan Jamaah Suko, Bupati Subandi Tekankan Pentingnya Menjaga Kerukunan
Pasuruan Woman’s Run 2026 di Taman Dayu, Pelari 12 Tahun Tuntaskan 5K dalam 18 Menit 13 Detik

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:49

Mabes TNI Gencarkan Pencegahan Karhutla di Pelalawan, Kearifan Lokal Jadi Kekuatan

Selasa, 15 September 2026 - 16:04

Polsek Laren Atur Lalu Lintas Pagi di Jalur Sekolah, Cegah Macet dan Kecelakaan di Lamongan

Selasa, 15 September 2026 - 15:32

Bhabinkamtibmas Pelangwot Cek Bibit Cabai, Dukung Ketahanan Pangan di Lamongan

Senin, 14 September 2026 - 13:45

Suporter Persekabpas Pasuruan Siap Jaga Ketertiban Jelang Liga 3 Jawa Timur

Senin, 14 September 2026 - 13:38

Belum Ada Kehamilan dari Program IVF, RSUD H. Moh. Ruslan Evaluasi Kasus Pasien

Berita Terbaru