MADIUN, RadarBangsa.co.id – Komoditas kopi hutan berbasis agroforestri di Jawa Timur terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Tidak hanya menjadi sumber pendapatan masyarakat desa, kopi hutan kini berkembang menjadi salah satu komoditas unggulan yang berkontribusi besar terhadap ekonomi daerah hingga pasar ekspor.
Perkembangan tersebut menjadi sorotan dalam Jambore Perhutanan Sosial Provinsi Jawa Timur 2026 yang digelar Dinas Kehutanan Jawa Timur. Data terbaru menunjukkan sektor perhutanan sosial di provinsi ini berkembang pesat dengan melibatkan ratusan kelompok pengelola dan puluhan ribu kepala keluarga.
Berdasarkan data Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta per 8 Juni 2026, terdapat 438 Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) yang telah mengantongi Surat Keputusan Persetujuan Pengelolaan. Kelompok tersebut tersebar di 23 kabupaten dan satu kota di Jawa Timur.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan ekonomi desa. Menurutnya, perhutanan sosial tidak lagi hanya dipandang sebagai program pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Perhutanan sosial bukan hanya soal menjaga hutan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini bisa menjadi pengungkit Indeks Desa Membangun (IDM), terutama pada aspek ekonomi dan ketahanan sosial,” ujar perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut.
Data Dinas Kehutanan Jawa Timur menunjukkan akses legal pengelolaan perhutanan sosial kini mencapai 196.165 hektare dengan melibatkan 136.421 kepala keluarga. Dari jumlah itu, sekitar 12 persen di antaranya merupakan perempuan yang ikut berperan dalam pengelolaan usaha berbasis hutan.
Tak hanya itu, terdapat 880 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang mengembangkan 62 jenis komoditas. Namun, kopi menjadi sektor yang paling dominan.
Berdasarkan data Nilai Ekonomi (NEKON) KUPS Jawa Timur tahun 2025, kopi menyumbang 68,62 persen dari total transaksi ekonomi yang mencapai Rp447 miliar. Secara nasional, Jawa Timur bahkan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 29,36 persen dari total NEKON nasional sebesar Rp1,5 triliun.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya juga menyebut sejumlah kopi hutan asal Jawa Timur telah menembus pasar ekspor melalui skema communal branding. Beberapa daerah yang menjadi sentra unggulan antara lain kopi Kare Madiun, kopi Silo Jember, dan kopi Wonosalam Jombang.
Sementara itu, hingga 12 Juni 2026, nilai transaksi ekonomi sektor perhutanan sosial Jawa Timur yang tercatat dalam aplikasi SIMLUH telah mencapai Rp598 miliar atau 47,56 persen dari total nasional sebesar Rp1,2 triliun. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Indonesia.
Melihat capaian tersebut, Ning Lia optimistis kopi hutan memiliki peluang besar untuk menjadi motor lahirnya desa devisa baru di Jawa Timur. “Jika dikelola dengan baik, diperkuat dari sisi hilirisasi, branding, dan akses pasar, kopi hutan bisa menjadi kunci lahirnya desa devisa baru di Jawa Timur,” tegasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Kayak apa kopi hutan itu ya?