MALANG, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Kabupaten Malang terus mematangkan rencana peresmian Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan sebagai bagian dari upaya penghormatan terhadap korban sekaligus pengingat tragedi sepak bola nasional yang terjadi pada 2022 lalu. Pembahasan lanjutan dilakukan melalui pertemuan Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M bersama Kapolres Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana, Forkopimda Kabupaten Malang, serta perwakilan keluarga korban di Gate 13 Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Sabtu (28/2/2026) pagi.
Pertemuan tersebut menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam memastikan pembangunan museum tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga memberi manfaat sosial bagi keluarga korban dan masyarakat luas.
Bupati Malang yang akrab disapa Abah Sanusi menegaskan, Museum Tragedi Kanjuruhan di Gate 13 nantinya difungsikan sebagai ruang memorial sekaligus tempat doa bagi keluarga korban. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki nilai historis sebagai titik utama tragedi.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, kami bersyukur keluarga korban terus memberikan dukungan sejak renovasi stadion hingga pembangunan museum dan monumen ini,” ujar Sanusi usai kegiatan yang ditutup doa bersama.
Ia menjelaskan, area Gate 13 tidak diperbolehkan untuk aktivitas perdagangan. Karena itu, Pemkab Malang menyiapkan fasilitas food court di kawasan stadion sebagai ruang pemberdayaan ekonomi bagi keluarga korban melalui unit usaha UMKM.
Dalam kesempatan yang sama, rombongan juga meninjau langsung lokasi food court yang dirancang menjadi pusat aktivitas ekonomi baru bagi keluarga terdampak tragedi.
Sementara itu, Kapolres Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana menyampaikan bahwa museum akan diisi berbagai barang milik korban, lengkap dengan identitas serta dokumentasi foto yang akan dipajang di bagian dalam bangunan. Konsep tersebut mengacu pada proposal Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan.
Menurutnya, museum diharapkan menjadi pengingat kolektif agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang, sekaligus memperkuat edukasi keselamatan dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola.
Putu Kholis menambahkan, pembahasan pembangunan museum sebenarnya telah dimulai sejak pertemuan pemerintah daerah dan keluarga korban pada 28 Mei 2024. Saat itu disepakati perlunya monumen dan museum sebagai simbol penghormatan permanen bagi para korban.
“Monumen dan museum ini menjadi simbol bersama bagi keluarga korban. Mereka juga telah menyatakan kesiapan untuk mengisi museum dengan foto serta barang milik korban,” ungkapnya.
Ke depan, Pemkab Malang bersama unsur Forkopimda dan keluarga korban akan terus menyempurnakan konsep pengelolaan museum sebelum peresmian resmi dilakukan.
“Harapannya, tempat ini menjadi ruang refleksi bersama agar tragedi kemanusiaan seperti Kanjuruhan tidak pernah terulang kembali,” pungkas Sanusi.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar