PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Panen raya Mangga Alpukat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Oktober 2026 membuat harga buah unggulan tersebut turun dibandingkan periode sebelum panen raya. Mangga grade A kini dijual Rp30.000 per kilogram, sedangkan grade B dibanderol Rp15.000 per kilogram.
Meski harga menurun, permintaan Mangga Alpukat atau Mangga Klonal 21 tetap ramai. Pembeli berdatangan langsung ke kebun petani maupun lapak penjualan di Kecamatan Rembang. Pesanan juga datang dari berbagai kota di Pulau Jawa hingga sejumlah wilayah di luar Jawa.
Salah satu petani, Ladi Khairullah, warga Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, mengatakan pesanan terus berdatangan sejak awal Oktober 2026. Untuk memenuhi permintaan, ia memanen mangga dari kebun yang tersebar di enam lokasi.
Kebun tersebut berada di Dusun Beran dan Dusun Watulunyu, Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, serta Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Masing-masing lokasi memiliki sekitar 200 pohon mangga.
“Kalau pas panen raya, kami bisa panen antara 50 kwintal sampai 1 ton. Tergantung lebat tidak buahnya,” kata Ladi, Senin (12/10/2026).
Menurut Ladi, harga mangga sebelum panen raya pada Agustus hingga September 2026 masih lebih tinggi. Mangga grade B dijual Rp40.000-Rp50.000 per kilogram, sedangkan grade A mencapai Rp50.000-Rp70.000 per kilogram, bergantung pada ukuran buah.
Memasuki masa panen raya, melimpahnya stok membuat harga turun. Pembeli Ladi tidak hanya berasal dari wilayah Jawa Timur, tetapi juga Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Tangerang, hingga Kalimantan.
Permintaan serupa dirasakan Sugiono, petani Mangga Alpukat asal Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Ia mengelola sekitar 300 pohon di lahan seluas 2,5 hektare. Hasil panennya dipasarkan ke berbagai kota di Jawa Timur dan wilayah lain di Pulau Jawa, serta dikirim ke konsumen di Sumatera dan pulau lainnya.
Sugiono mengatakan sebagian konsumen memilih datang langsung ke kebun untuk merasakan pengalaman memetik buah. Ia menilai kualitas mangga yang dihasilkan tidak terlepas dari penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam budidaya.
“Alhamdulillah banyak juga konsumen yang langsung datang ke kebun untuk bisa merasakan sensasi petik langsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perawatan dilakukan melalui pemangkasan, pemupukan, hingga penanganan pascapanen. Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga kualitas buah, terutama rasa manis dan tekstur daging yang lembut.
Kabupaten Pasuruan memiliki lebih dari 4.000 hektare lahan perkebunan mangga yang tersebar di sejumlah wilayah. Selain Kecamatan Rembang dan Sukorejo, budidaya mangga juga dijumpai di Kecamatan Wonorejo, Nguling, dan Grati.
Data dalam bahan menyebutkan jumlah pohon yang tercatat dalam luas panen mencapai 944.064 pohon hingga akhir 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 728.815 pohon pada 2024.
Produktivitas mangga di wilayah tersebut didukung kondisi agroklimat dan penerapan teknologi budidaya. Di Kecamatan Rembang, misalnya, karakteristik tanah hitam dengan kelembapan yang relatif tidak tinggi disebut mendukung produksi buah berkualitas.
Petani juga memanfaatkan teknologi pembuahan di luar musim menggunakan paclobutrazol dan pupuk organik. Selain itu, pemangkasan bentuk dan produksi serta pengembangan kawasan perkebunan dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui bantuan bibit yang didanai APBD Kabupaten Pasuruan.
Popularitas Mangga Alpukat tidak hanya menjangkau konsumen lokal. Bahan yang tersedia juga menyebut adanya permintaan dari luar negeri, antara lain Kuwait, Malaysia, dan Australia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar