NTB Tancap Gas Hilirisasi Perikanan 2025, Produksi 1,25 Juta Ton dan NTP Terkerek Naik

Rabu, 25 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas bongkar muat hasil tangkap nelayan NTB di Pelabuhan Perikanan, Senin (24/2/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Aktivitas bongkar muat hasil tangkap nelayan NTB di Pelabuhan Perikanan, Senin (24/2/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

MATARAM, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda mengakselerasi transformasi sektor kelautan dan perikanan dari basis produksi primer menuju industri agrokemaritiman bernilai tambah. Sepanjang 2025, produksi perikanan menembus 1.252.719,60 ton atau tumbuh 2,96 persen dibanding 2024, disertai kenaikan Nilai Tukar Perikanan (NTP) menjadi 106,82.

Kinerja tersebut menjadi fondasi awal implementasi RPJMD 2025–2029, sekaligus indikator bahwa konsolidasi tata kelola dan penguatan struktur produksi mulai berjalan. Pemerintah daerah menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan pelaku usaha, dan keberlanjutan ekosistem laut.

Secara rinci, subsektor perikanan budidaya merealisasikan produksi 997.210,64 ton pada 2025, meningkat 1,66 persen secara tahunan dan melampaui target. Capaian ini didominasi komoditas unggulan seperti udang dan rumput laut yang menunjukkan stabilitas produksi serta peningkatan efisiensi usaha.

Sementara itu, perikanan tangkap terealisasi 255.508,96 ton atau tumbuh 2,79 persen dibanding 2024. Pertumbuhan ini dinilai mencerminkan optimalisasi sarana tangkap dan perbaikan manajemen armada, tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan sumber daya ikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB menyatakan pertumbuhan produksi pada 2025 tidak lagi bersifat sporadis. “Peningkatan ini ditopang pembinaan teknis yang lebih terstruktur, akses pembiayaan yang diperluas, serta integrasi produksi dengan kebutuhan pasar,” ujarnya di Mataram, Senin (24/2/2026).

Menurutnya, pendekatan berbasis data produksi dan zonasi perairan menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi ekonomi dan daya dukung lingkungan.

Dari sisi ekonomi rumah tangga perikanan, NTP tahun 2025 tercatat 106,82, naik 1,23 poin dibanding 2024 dan melampaui target pemerintah daerah. Angka di atas 100 menunjukkan harga yang diterima nelayan dan pembudidaya lebih tinggi dibanding biaya yang mereka keluarkan.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat pesisir. Sejumlah koperasi nelayan melaporkan perbaikan arus kas usaha dan peningkatan kemampuan investasi, terutama untuk peremajaan alat tangkap dan pengadaan sarana budidaya.

“Margin usaha lebih stabil karena harga jual relatif terjaga dan biaya produksi terkendali,” kata salah satu perwakilan asosiasi pembudidaya udang di NTB.

Pemerintah daerah juga mengintegrasikan program asuransi nelayan, fasilitasi akses permodalan, serta pelatihan manajemen usaha guna memperkuat ketahanan ekonomi sektor ini.

Transformasi sektor diperkuat dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 14 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan. Regulasi ini memperjelas kewenangan provinsi dalam pengelolaan wilayah laut hingga 12 mil, memperketat sistem perizinan berbasis risiko, serta memperkuat pengawasan dan pengelolaan kawasan konservasi.

Pada 2025, luas ekosistem perairan laut berstatus baik mencapai 14.528 hektare, meningkat dibanding tahun sebelumnya dan melampaui target. Pengelolaan dilakukan melalui 12 kawasan konservasi yang berada di bawah tiga BLUD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan ekspansi produksi tidak menggerus kualitas lingkungan laut. “Pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan prinsip kehati-hatian ekologis,” tegas pejabat DKP NTB.
Perubahan signifikan juga terjadi pada penguatan hilirisasi. Beroperasinya pabrik garam di Kabupaten Bima menjadi tonggak awal pergeseran struktur ekonomi lokal dari penjualan bahan baku menuju penciptaan nilai tambah di daerah.

Dampaknya terlihat pada peningkatan pendapatan petambak, terciptanya lapangan kerja baru, serta stabilisasi harga garam. Selain itu, ketergantungan pasokan dari luar daerah mulai berkurang.

Pada komoditas udang, pemerintah menyiapkan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan pabrik pengolahan terintegrasi dengan pelabuhan perikanan. Dukungan investasi meliputi penyediaan lahan, fasilitasi perizinan, serta insentif fiskal guna menarik investor.

Iqbal–Dinda menegaskan strategi hilirisasi bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pembentukan ekosistem industri terintegrasi dari hulu ke hilir. “Tujuannya menciptakan nilai tambah di daerah dan memperkuat daya saing NTB di pasar nasional maupun ekspor,” ujarnya.

Secara keseluruhan, hampir seluruh indikator utama 2025 menunjukkan perbaikan dibanding 2024: produksi naik hampir 3 persen, budidaya dan tangkap tumbuh positif, NTP menguat, serta kualitas ekosistem laut membaik.

Jika 2024 dipandang sebagai fase stabilisasi, maka 2025 menjadi fase konsolidasi yang lebih terarah dengan fondasi regulasi yang kuat dan orientasi pembangunan yang terintegrasi.

Pemerintah Provinsi NTB menempatkan capaian ini sebagai pijakan untuk mempercepat transformasi menuju industri agrokemaritiman yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Ini bukan akhir, melainkan awal dari penguatan struktur ekonomi kelautan NTB secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Aini

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Gus Fawait Rombak Pejabat Pemkab Jember, Target Percepatan RPJMD Jadi Alasan
Harhubnas 2026, Trans Jatim Gratis Sehari di 8 Koridor, Gubernur Khofifah Ajak Warga Beralih ke Transportasi Publik
Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 09:14

Gus Fawait Rombak Pejabat Pemkab Jember, Target Percepatan RPJMD Jadi Alasan

Kamis, 17 September 2026 - 09:06

Harhubnas 2026, Trans Jatim Gratis Sehari di 8 Koridor, Gubernur Khofifah Ajak Warga Beralih ke Transportasi Publik

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Berita Terbaru