JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Perdebatan mengenai keamanan galon guna ulang polikarbonat (PC) kembali mencuat, khususnya soal kandungan Bisphenol A (BPA). Namun, pakar polimer menegaskan bahwa usia galon tidak berpengaruh terhadap migrasi BPA yang masuk ke dalam air.
Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB, Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa justru galon baru memiliki sisa zat kimia pembentuk lebih tinggi dibanding galon lama. “Sesungguhnya BPA paling banyak itu kapan? Ya saat galon itu baru, itu masih tersisa kimia pembentuknya,” ungkap Zainal dalam sebuah tayangan YouTube, Selasa (16/9).
Menurut Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Plastik Indonesia tersebut, galon yang telah digunakan berulang kali cenderung lebih aman karena sisa kimia di dalamnya semakin berkurang. “Ini sudah secara ilmiah. Jadi ada kekeliruan dalam penyebaran informasi yang menyesatkan,” tegasnya.
Zainal menambahkan, pemerintah secara rutin berdiskusi dengan para ahli terkait keamanan kemasan pangan. Berbagai regulasi juga telah ditetapkan untuk memastikan masyarakat terlindungi. Ia menekankan bahwa kerusakan galon karena faktor usia atau degradasi tidak otomatis menghasilkan BPA. “Yang terlepas dari degradasi ini bukan BPA, melainkan senyawa seperti eter, etanol, dan keton,” jelasnya.
Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) menegaskan setiap galon yang kembali ke pabrik selalu diperiksa ketat. Galon yang dinilai tidak layak pakai, baik karena bocor, kotor, atau rusak, langsung dipisahkan untuk dimusnahkan. “Umur pakai maksimum selama lima tahun. Lebih dari itu harus dimusnahkan,” kata Penanggung Jawab Sekretariat Aspadin Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, Ismail.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Muhammad Alamsyah Aziz, juga menegaskan bahwa paparan BPA dalam air minum galon berada jauh di bawah ambang batas aman. Berdasarkan penelitian, efek kesehatan baru bisa muncul jika seseorang terpapar minimal 1.200–1.500 mikrogram. Sementara itu, ambang batas aman yang ditetapkan pemerintah hanya 0,06 mikrogram.
“Hasil penelitian CDC (Centers for Disease Control and Prevention) di Amerika Serikat menunjukkan kandungan BPA dalam kemasan pangan masih jauh di bawah batas tersebut,” jelas anggota POGI itu. Ia menambahkan, bila BPA masuk ke tubuh, senyawa tersebut akan dikeluarkan melalui urin, feses, maupun keringat. “Sampai saat ini kami tidak pernah menerima laporan seseorang sakit karena BPA,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan pakar teknologi plastik lulusan Universitas Teknologi Berlin, Wiyu Wahono. Menurutnya, di Eropa pun kemasan PC yang mengandung BPA masih diperbolehkan selama tidak melampaui tolerable daily intake (TDI). Khusus perlengkapan bayi dilarang, mengingat toleransi tubuh bayi lebih rendah.
Ia menekankan, orang dewasa justru harus mengonsumsi sekitar 48 liter air per hari agar BPA berdampak serius pada kesehatan. “Tidak akan terjadi akumulasi. Kalau akumulasi artinya menumpuk terus, tidak keluar, dan ini tidak terjadi,” tegas Wiyu.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin









Komentar