Paripurna DPD RI Diwarnai Keingintahuan Ketua DPD soal Gelar Dr Lia Istifhama

Kamis, 15 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin berbincang dengan Senator Jawa Timur Dr. Lia Istifhama dalam Sidang Paripurna DPD RI. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin berbincang dengan Senator Jawa Timur Dr. Lia Istifhama dalam Sidang Paripurna DPD RI. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Jakarta, Rabu (15/1/2026), diwarnai momen tak biasa ketika Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menyoroti deretan gelar akademik yang melekat pada Senator Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H., S.H.I., M.E.I. Rasa penasaran pimpinan sidang membuka fakta perjalanan akademik Ning Lia yang menempuh pendidikan lintas disiplin, bahkan sejak jenjang sarjana di tiga perguruan tinggi sekaligus.

Pertanyaan Sultan Bachtiar Najamudin muncul di forum resmi saat mencermati gelar yang tercantum dalam daftar anggota sidang. Ia meminta penjelasan langsung mengenai asal-usul gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I) dan Magister Ekonomi Islam (M.E.I) yang disandang Lia Istifhama.

“Yang belum jelas dari pimpinan ini gelar S.H.I dan M.E.I, nanti diperjelas, Bu. Kata teman-teman, mohon diperjelas,” ujar Sultan di hadapan peserta paripurna.

Menanggapi hal tersebut, Lia Istifhama menjelaskan bahwa perjalanan pendidikannya ditempuh melalui jalur yang tidak lazim, dengan komitmen akademik yang ketat sejak usia muda.

“Saya waktu S1 kuliah di tiga tempat. Dari situ ada beberapa gelar, kemudian melanjutkan magister ekonomi Islam dan doktoral di bidang ekonomi Islam,” kata Lia di ruang sidang paripurna.

Penjelasan tersebut mengungkap fakta bahwa sejak jenjang sarjana, Lia Istifhama menjalani studi di tiga institusi pendidikan secara hampir bersamaan. Ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Sosiologi di Universitas Airlangga (Unair) melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), yang kini dikenal sebagai Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Pada waktu yang sama, Lia juga diterima di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya—yang kala itu masih berstatus IAIN—di Program Studi Sosiologi Islam. Selain dua kampus negeri tersebut, Lia melanjutkan aktivitas akademiknya pada sore hingga malam hari di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taruna Surabaya, dengan konsentrasi Sarjana Hukum Islam (S.H.I).

Kombinasi studi tersebut membuat Lia mengantongi gelar lintas disiplin, mulai dari sosiologi, sosiologi Islam, hingga hukum Islam. Di tengah padatnya jadwal kuliah, ia juga diketahui bekerja sebagai pengajar kursus privat.

Salah satu rekan seangkatan Lia di Universitas Airlangga, Hery Prasetyo, membenarkan kiprah akademik tersebut. Hery, yang kini menempuh pendidikan doktoral di University of Sydney, Australia, mengaku satu angkatan dengan Lia di Prodi Sosiologi Unair tahun 2002.

“Kalau tidak salah kami angkatan 2002. Yang saya ingat, Lia sangat aktif di Sosiologi,” ujar Hery saat dihubungi dari Surabaya.

Menurut Hery, Lia dikenal memiliki ketertarikan kuat pada isu ekonomi mikro, masyarakat miskin perkotaan, serta kelompok marginal. Ketertarikan itu tercermin dalam berbagai mata kuliah lapangan, seperti Sosiologi Pedesaan, Tipologi Sosial, dan Sosiologi Perkotaan.

“Dalam beberapa kuliah lapangan, justru saya banyak belajar dari Lia,” katanya.

Hery menilai latar belakang Lia yang tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama sekaligus keluarga politisi memberikan perspektif unik dalam diskusi akademik. Namun, ia menegaskan bahwa substansi utama bukan terletak pada banyaknya gelar.

“Bukan soal gelar yang banyak, tetapi bagaimana Lia mampu mengombinasikan pendekatan multidisiplin itu. Ini menjadi pondasi penting ketika ia menjalankan peran sebagai wakil rakyat dalam menyusun dan memetakan kebijakan,” tegasnya.

Senada, rekan kampus Lia di UINSA, Arifulinnuha, juga mengenang kesibukan Lia selama masa kuliah. “Saya mondok di rumah KH Maskur Hasyim, ayah Ning Lia. Saya tahu betul bagaimana padatnya aktivitas akademik beliau waktu itu,” kata Arif.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru