PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Hari Apriyanto, pensiunan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kabupaten Pasuruan, mengembangkan penangkaran burung perkutut di Desa Sladi, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan yang awalnya hanya hobi itu kini berkembang menjadi usaha budidaya dengan ratusan ekor burung perkutut yang ia rawat bersama beberapa pekerja.
Perkutut yang dikenal dengan suara khasnya kini tidak hanya menjadi hewan peliharaan, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian serta peluang usaha yang terus berkembang di tangan Hari.
Saat ditemui pada Jumat (19/6/2026), Hari tampak sedang memberi pakan burung perkutut di kandang-kandang penangkarannya. Ia tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu beberapa orang yang ikut merawat ratusan burung yang ada di lokasi tersebut.
Menurutnya, perkutut bukan sekadar hobi, melainkan perpaduan antara seni, budaya, dan potensi ekonomi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama budidaya ini bukan semata bisnis.
“Kalau full bisnis ya tidak. Yang penting perkutut ini bisa dirawat, diberi makan, dan tetap lestari,” kata Hari.
Kecintaannya terhadap burung perkutut sudah tumbuh sejak dirinya masih aktif sebagai PNS pada 1997. Ia mengingat pengalaman pertama membeli burung perkutut dari tempat budidaya milik almarhum Kosim, yang saat itu menjabat Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan.
“Gajian pertama saya langsung beli perkutut di Pak Kosim. Karena memang sudah suka, ya tidak terlalu banyak berpikir, yang penting punya,” ujarnya.
Kini, penangkaran yang dikelolanya memiliki ratusan ekor perkutut yang ditempatkan dalam kandang-kandang khusus. Menariknya, setiap kandang diberi nama berdasarkan batu alam seperti diamond, safir, rubi, hingga zamrud.
Penamaan tersebut menjadi penanda kualitas indukan perkutut yang dibudidayakan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki nilai jual tinggi karena kualitas suara dan fisiknya.
“Ada yang namanya Zamrud. Burungnya bagus sekali, bahkan ada yang menawar dengan harga lebih tinggi,” ungkapnya.
Hari menuturkan bahwa merawat burung perkutut membutuhkan ketelatenan dan pendekatan yang penuh perhatian.
“Harus lembut dan penuh kasih sayang. Kalau dirawat dengan baik, perkutut juga memberikan hasil yang baik,” katanya.
Ia juga menyebut adanya kepercayaan masyarakat terhadap perkutut yang dianggap membawa keberuntungan, terutama dari suara khas yang dihasilkan.
“Kadang kalau bunyinya panjang, biasanya ada tamu datang. Itu sering terjadi,” tambahnya.
Penangkaran burung perkutut di Pasuruan menunjukkan bahwa hobi dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang bernilai ekonomi. Selain menjadi sumber penghasilan tambahan bagi pelaku, usaha ini juga membuka ruang pelestarian satwa lokal yang memiliki nilai budaya di masyarakat Jawa.
Di tengah tren urbanisasi dan berkurangnya minat generasi muda terhadap perkutut, keberadaan penangkaran seperti yang dilakukan Hari menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan populasi sekaligus tradisi yang melekat di masyarakat.
Hingga kini, Hari tetap konsisten merawat ratusan burung perkututnya dengan pendekatan yang sederhana namun penuh ketekunan. Dari hobi yang tumbuh sejak puluhan tahun lalu, ia membuktikan bahwa kesabaran dan konsistensi dapat membentuk usaha yang berkelanjutan.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar