LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Di tengah kawasan pedesaan Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Pondok Pesantren Roudlatud Darojat tumbuh menjadi salah satu simpul pendidikan keagamaan yang berpengaruh. Berdiri sejak tahun 1999, pesantren ini tak hanya menjadi pusat pembelajaran agama, tetapi juga magnet santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Keberadaan pesantren yang diasuh Kiai Mustaji tersebut juga mendapat perhatian khusus dari Anggota DPD RI Lia Istifhama. Dalam kunjungan kerjanya, senator muda asal Jawa Timur itu menilai Pondok Pesantren Roudlatud Darojat memiliki kontribusi strategis dalam mencetak generasi berakhlak, berilmu, dan berdaya saing, meski berjalan dengan keterbatasan fasilitas.
“Pesantren ini telah mencetak ratusan alumni selama lebih dari dua dekade. Dengan jumlah santri yang terus bertambah setiap tahun, dukungan negara menjadi sangat penting agar kualitas pendidikan tetap terjaga,” kata Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, saat berdialog dengan pengasuh dan santri.
Saat ini, sekitar 500 santri menimba ilmu di pesantren tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari Lamongan dan wilayah Jawa Timur, tetapi juga dari luar Pulau Jawa, termasuk Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia bagian timur. Tingginya animo masyarakat yang menjadi indikator kuat atas kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan yang diterapkan.
Pesantren Roudlatud Darojat dikenal konsisten memadukan pendidikan keislaman dengan pendidikan formal yang terstruktur. Model pendidikan ini dinilai mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan spiritual. Namun, pertumbuhan jumlah santri yang signifikan menghadirkan tantangan baru, terutama terkait keterbatasan ruang belajar dan asrama.
Selama lebih dari 20 tahun, seluruh operasional dan pembangunan fasilitas pesantren dikelola secara mandiri. Kiai Mustaji memilih menanggung sendiri biaya pengembangan pesantren demi memastikan proses pendidikan tetap berjalan.
“Bagi kami, yang utama adalah keberlangsungan pendidikan santri. Selama masih mampu, pesantren ini akan terus berdiri untuk mereka,” ujar Kiai Mustaji.
Tak hanya itu, lebih dari 100 santri dari keluarga kurang mampu mendapatkan pembiayaan penuh. Kebutuhan makan, tempat tinggal, hingga pendidikan formal ditanggung secara pribadi agar tidak ada santri yang terhenti pendidikannya karena alasan ekonomi.
Kondisi fasilitas yang kini mulai padat mendorong pihak pesantren membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah. Kiai Mustaji berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat meninjau langsung kondisi pesantren dan memberikan dukungan pembangunan gedung kelas serta asrama baru.
“Kami berharap ada perhatian nyata. Bantuan ini bukan sekadar bangunan, tapi investasi masa depan generasi bangsa,” ujarnya.
Lia Istifhama menegaskan, pesantren seperti Roudlatud Darojat layak mendapat perhatian lebih karena perannya tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga sosial dan kebangsaan. “Penguatan pesantren di daerah adalah kunci pemerataan kualitas sumber daya manusia Indonesia,”pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








