BANGKALAN, RadarBangsa.co.id – Dunia akademik di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, digegerkan oleh capaian intelektual seorang mahasiswa. Abdur Rohman SM, Presiden Mahasiswa (Presma) STKIP PGRI Bangkalan periode 2025–2026, berhasil menerbitkan enam buku di tengah kesibukannya memimpin organisasi kampus.
Prestasi tersebut menjadi sorotan karena diraih saat Abdur Rohman masih aktif menjalani perkuliahan sekaligus mengemban tanggung jawab sebagai pimpinan mahasiswa. Sosok yang akrab disapa Aab itu dikenal produktif menulis, khususnya karya sastra berbentuk puisi.
Enam buku yang telah diterbitkannya merupakan kumpulan antologi puisi, yakni Jejak yang Tertulis dalam Bait Rindu, Malaikat yang Melahirkan, Tuhan Engkau Penipu, Tuhan Ada di Matanya, Sujud Seorang Pelacur, dan Sakiti Aku Sekali Lagi. Dua di antaranya terbit melalui penerbit Mumtaz, Cirebon, Jawa Barat, pada awal 2026.
Aab mengaku proses kreatif yang dijalaninya tidak lahir dari situasi nyaman. Ia justru menghadapi keraguan hingga ejekan karena dianggap tidak memiliki bakat menulis.
“Tekanan itu justru menjadi titik balik ketika saya memilih belajar serius kepada dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Bapak M. Helmi, yang membimbing sekaligus mengkritisi karya saya,” ujar Aab, Sabtu (7/2/2026).
Mahasiswa kelahiran Kecamatan Kokop tersebut menegaskan bahwa menulis bukan sekadar ekspresi pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab intelektual mahasiswa. Selain berkarya, ia aktif mengawal isu strategis di lingkungan kampus, khususnya yang berkaitan dengan aspirasi mahasiswa dan perbaikan ekosistem akademik.
“Menjadi mahasiswa bukan hanya status akademik, tetapi tanggung jawab moral untuk melahirkan karya, terlebih yang berkaitan dengan suara mahasiswa,” tegasnya.
Capaian itu mendapat apresiasi dari Ketua STKIP PGRI Bangkalan, Fajar Hidayatullah. Ia menilai produktivitas mahasiswa dalam menulis menunjukkan fungsi kampus sebagai ruang pencipta gagasan, bukan sekadar tempat transfer ilmu.
“Puisi dan novel membuka ruang dialog batin, mempertemukan beragam sudut pandang, serta melatih kedewasaan berpikir,” ujarnya.
Menurut Fajar, karya Abdur Rohman menjadi bukti konkret penerapan Outcome Based Education (OBE), di mana hasil pembelajaran tidak berhenti pada nilai akademik, tetapi terwujud dalam karya yang memberi dampak bagi masyarakat.
Ia menambahkan, fenomena tersebut menegaskan bahwa mahasiswa dituntut berani berkarya dan meninggalkan jejak intelektual selama menempuh pendidikan tinggi.
Kisah Abdur Rohman pun melampaui prestasi personal. Di tengah keterbatasan waktu, tekanan sosial, dan tanggung jawab organisasi, ia mampu menunjukkan konsistensi berkarya.
“Dunia akademik menuntut keberanian untuk bersuara dan mencipta. Mahasiswa harus meninggalkan jejak, bukan hanya ijazah,” pungkas Fajar.
Lainnya:
- Siswa SMP Al Muslim Waru Turun ke Desa, Gerakkan UMKM hingga Edukasi Kesehatan Warga
- Anak TK Diajak Masuk Mapolresta Sidoarjo, Polisi Ubah Ketakutan Jadi Keceriaan dan Disiplin
- Pemkab Jember Bongkar Praktik ‘Sekolah Favorit’, SPMB 2026 Dijaga Ketat Tanpa Titipan
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








