SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Produksi padi Jawa Timur diperkirakan mencapai 9,86 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Angka tersebut meningkat 5,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional 2026, Kamis (24/9). Menurut Khofifah, capaian tersebut tidak lepas dari kerja keras petani yang selama ini menopang ketersediaan pangan Jawa Timur sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
“Selamat Hari Tani Nasional Tahun 2026 kepada seluruh petani, khususnya para petani di Jawa Timur. Terima kasih atas kerja keras, ketekunan, dan pengabdian panjenengan semua. Dari tangan para petani, pangan tersedia, ekonomi desa bergerak, dan ketahanan bangsa terus terjaga,” ujar Khofifah, Kamis (24/9).
Berdasarkan data yang disampaikan, luas panen padi Jawa Timur pada Januari–Oktober 2026 mencapai 1,74 juta hektare. Angka itu meningkat 4,58 persen atau bertambah 76,19 ribu hektare dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 1,66 juta hektare.
Peningkatan luas panen tersebut sejalan dengan kenaikan produksi. Produksi padi mencapai 9,86 juta ton GKG, bertambah 480,77 ribu ton dari 9,38 juta ton GKG pada periode yang sama 2025.
Produksi beras Jawa Timur pada periode tersebut tercatat 5,69 juta ton, meningkat 5,13 persen atau bertambah 277,61 ribu ton dibandingkan 2025 yang mencapai 5,41 juta ton.
Capaian 2026 itu melanjutkan kinerja produksi pertanian Jawa Timur pada tahun sebelumnya. Berdasarkan Angka Tetap Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur yang dirilis 2 Februari 2026, luas panen padi sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare.
Dari luas panen tersebut, produksi padi Jawa Timur mencapai 10,44 juta ton GKG atau meningkat 12,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi itu setara sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk.
Khofifah mengatakan Jawa Timur konsisten menjadi provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi secara nasional sejak 2020 hingga Semester I 2026.
“Alhamdulillah, sejak 2020 hingga Semester I 2026, Jawa Timur konsisten menjadi produsen padi dan beras tertinggi secara nasional. Capaian ini merupakan buah dari kerja keras para petani, penyuluh, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian,” katanya.
Menurut Khofifah, posisi Jawa Timur sebagai salah satu penopang utama pangan nasional sekaligus membawa tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan produksi.
“Jawa Timur tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Karena itu, posisi sebagai lumbung pangan Indonesia harus terus kita jaga dan perkuat,” tegasnya.
Namun, Khofifah menilai tingginya produksi belum cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan pertanian. Peningkatan produktivitas, menurut dia, harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.
Pemprov Jawa Timur terus mendorong penguatan ekosistem pertanian dari sektor hulu hingga hilir, antara lain melalui peningkatan akses terhadap benih unggul dan pupuk, perbaikan irigasi, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, perluasan pembiayaan, hingga penguatan pemasaran dan hilirisasi produk pertanian.
“Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani,” jelas Khofifah.
Penguatan kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani juga menjadi bagian dari upaya tersebut agar posisi tawar petani semakin kuat. Pemerintah daerah juga mengembangkan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, serta komunitas pertanian.
Di sisi lain, modernisasi pertanian dinilai penting untuk menghadapi perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan kebutuhan peningkatan produktivitas.
Khofifah mendorong perluasan pemanfaatan teknologi pertanian, mekanisasi, digitalisasi pemasaran, efisiensi penggunaan air, serta pola budidaya yang ramah lingkungan.
“Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah diwariskan para pendahulu,” tuturnya.
Selain produktivitas dan teknologi, regenerasi petani menjadi perhatian lain. Khofifah mengajak generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang dapat berkembang melalui teknologi, pengolahan produk, kewirausahaan, pemasaran digital, dan industri berbasis pertanian.
“Masa depan pangan berada di tangan generasi muda. Mari kita bangun pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian,” ajaknya.
Pada Hari Tani Nasional 2026, Khofifah kembali menyampaikan penghargaan kepada para petani pangan, hortikultura, dan perkebunan di Jawa Timur yang terus menjaga produktivitas pertanian di tengah berbagai tantangan.
Ia berharap petani Jawa Timur semakin tangguh, sejahtera, dan berdaya saing serta tetap menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia.
“Terima kasih kepada seluruh petani Jawa Timur yang tidak pernah lelah merawat tanah, menanam, dan menghasilkan pangan bagi masyarakat. Semoga seluruh ikhtiar dan kerja keras para petani senantiasa diberikan kelancaran, keberkahan, serta hasil panen yang melimpah,” ucapnya.
“Mari terus bergandengan tangan menjaga Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional sekaligus memastikan petaninya semakin maju, mandiri, dan sejahtera,” pungkas Khofifah.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar