BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Tradisi adat Puter Kayun kembali digelar warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi, pada momentum 10 Syawal 1447 Hijriah. Ritual tahunan yang menjadi warisan budaya masyarakat setempat ini tetap berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang berjasa membuka jalur utara Banyuwangi.
Tradisi tersebut dikenal sebagai napak tilas perjalanan menuju kawasan Pantai Watu Dodol. Biasanya, warga menaiki dokar atau delman yang dihias khusus sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah dan pesan leluhur.
Sejak pagi, dua dokar berhias megah telah disiapkan di kawasan Boyolangu. Salah satu kusir senior, Abdul Mufid (65), tampak bersiap mengantar prosesi adat yang telah diikutinya selama puluhan tahun.
“Saya sudah menjadi kusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama warga di sini. Yang terpenting dalam tradisi ini adalah napak tilasnya,” ujar Abdul Mufid.
Ketua Panitia Puter Kayun sekaligus tokoh pemuda Boyolangu, Risyal Alfani, menjelaskan ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Jakso, tokoh leluhur yang dipercaya sebagai sosok pertama pembuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi.
Menurut cerita turun-temurun, pada masa kolonial Belanda, wilayah utara Banyuwangi masih tertutup gundukan batu besar yang sulit ditembus. Ki Buyut Jakso kemudian diminta membantu membuka jalur tersebut hingga akhirnya kawasan itu dikenal sebagai Watu Dodol, yang secara harfiah berarti batu yang dibongkar.
“Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucunya terus berkunjung ke Watu Dodol sebagai bentuk napak tilas atas perjuangannya,” kata Risyal.
Namun, pelaksanaan tahun ini mengalami penyesuaian. Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang akibat puncak arus balik Lebaran membuat iring-iringan dokar hanya berputar di wilayah kota dan tidak melanjutkan perjalanan hingga Pantai Watu Dodol.
Sebagian warga yang biasanya mengiringi prosesi dengan kendaraan roda empat terpaksa beralih menggunakan sepeda motor untuk menghindari kepadatan lalu lintas.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menegaskan pemerintah daerah berkomitmen menjaga kelestarian tradisi lokal yang memiliki nilai sejarah sekaligus potensi wisata.
“Tradisi Puter Kayun bukan hanya ritual budaya, tetapi juga atraksi wisata yang memperkuat identitas Banyuwangi,” ujarnya.
Sebelum puncak acara, warga Boyolangu juga menggelar rangkaian budaya lain seperti Lebaran Kopat pada 7 Syawal dan Tradisi Kebo-keboan pada 9 Syawal, sebagai bagian dari Boyolangu Traditional Culture.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar